Jumat, 04 Mei 2012

hipotiroid


·         BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipotiroidisme merupakan suatu sindroma klinis akibat penurunan produksi dan sekresi hormon tiroid. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan laju metabolisme tubuh dan penurunan glukosaminoglikan di interstisial terutama dikulit dan otot. Hipotiroidisme biasanya disebabkan oleh proses primer dimana jumlah produksi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid tidak mencukupi. Dapat juga sekunder oleh karena gangguan sekresi hormon tiroid yang berhubungan dengan gangguan sekresi Thyroid Stimulating Hormone (TSH) yang adekuat dari kelenjar hipofisis atau karena gangguan pelepasan Thyrotropin Releasing Hormone (TRH) dari hipotalamus (hipotiroid sekunder atau tersier). Manifestasi klinis pada pasien akan bervariasi, mulai dari asimtomatis sampai keadaan koma dengan kegagalan multiorgan (koma miksedema). Insidensi hipotiroidisme bervariasi tergantung kepada faktor geografik dan lingkungan seperti kadar iodium dalam makanan dan asupan zat goitrogenik. Selain itu juga berperan faktor genetik dan distribusi usia dalam populasi tersebut. Diseluruh dunia penyebab hipotiroidisme terbanyak adalah akibat kekurangan iodium. Sementara itu dinegara-negara dengan asupan iodium yang mencukupi, penyebab tersering adalah tiroiditis autoimun. Di daerah endemik, prevalensi hipotiroidisme adalah 5 per 1000, sedangkan prevalensi hipotiroidisme subklinis sebesar 15 per 1000.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum :
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk :
a. Mengetahui dan memahami mengenai definisi penyakit hipotiroidisme.
b. Mengetahui dan memahami mengenai gambaran hipotiroidisme.
c. Mengetahui dan memahami mengenai penyebab penyakit hipotiroidisme.
d. Mengetahui dan memahami mengenai patofisiologi penyakit hipotiroidisme.
e. Mengetahui dan memahami mengenai gejala dan diagnosa penyakit hipotoroidisme.
f. Mengetahui dan memahami mengenai penatalaksanaan selama kehamilan.
2. Tujuan khusus :
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk :
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Medical Science.










BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Hipotiroidisme
Hipotiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tiroid kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid terutama tiroksin (T4) dan triiodothyronine (T3). Kedua hormon ini penting karena mereka ada di hampir setiap sel tubuh dan membantu dalam mengatur metabolisme protein, lemak, dan karbohidrat. Hipotiroid yang sangat berat disebut miksedema.
Hipotiroidisme terjadi karena penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid sebagai akibat kegagalan mekanisme kompensasi kelenjar tiroid dalam memenuhi kebutuhan jaringan tubuh akan hormon-hormon tiroid.

Jenis Hipotiroidisme
Lebih dari 95% penderita hipotiroidisme mengalami hipotiroidisme primer atau tiroidal yang mengacu kepada disfungsi kelenjar tiroid itu sendiri. Apabila disfungsi tiroid disebabkan oleh kegagalan kelenjar hipofisis hipotalamus atau keduanya hipotiroidisme sentral (hipotiroidisme sekunder) atau pituitaria, maka disebut hipotiroidisme tersier.
1. Primer
Goiter : Tiroiditis Hashimoto, fase penyembuhan setelah tiroiditis, defisiensi yodium
Non-goiter : destruksi pembedahan, kondisi setelah pemberian yodium radioaktif atau radiasi eksternal, agenesis, amiodaron
2. Sekunder : kegagalan hipotalamus (
↓ TRH, TSH yang berubah-ubah, ↓ T4 bebas) atau kegagalan pituitari (↓ TSH, ↓ T4 bebas)



B. Gambaran Anatomi Hipotiroidisme


C. Etiologi
Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Apabila disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT yang rendah akan disertai oleh peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak adanya umpan balik negative oleh HT pada hipofisis anterior dan hipotalamus. Apabila hipotiroidisme terjadi akibat malfungsi hipofisis, maka kadar HT yang rendah disebabkan oleh rendahnya kadar TSH. TRH dari hipotalamus tinggi karena tidak adanya umpan balik negatif baik dari TSH maupun HT. Hipotiroidisme yang disebabkan oleh malfungsi hipotalamus akan menyebabkan rendahnya kadar HT, TSH, dan TRH.
Sejauh ini penyebab hipotiroidisme tersering di Amerika Serikat adalah gangguan autoimun yang dikenal sebagai tiroiditis Hashimoto. Penyebab umum hipotiroidisme disebutkan dalam tabel berikut:
Penyebab Hipotiroidisme
Primer
Tiroiditis autoimun (tiroiditis Hashimoto)
Radiasi kepala atau leher
Terapi radioion untuk penyakit Graves
Tiroidektomi
Defisiensi yodium
Pengobatan (misal litium, amiodaron, tiourea, interferon alfa, interleukin)
Skleroderma
Amiloidosis
Defek enzim
Sekunder
Penyakit hipofisis
Penyakit hipotalamus

Penyebab hipotiroidisme tersering antara lain:
1. Penyakit Hashimoto, juga disebut tiroiditis autoimun, terjadi akibat adanya autoantibodi yang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan penurunan HT disertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik negatif yang minimal. Penyebab tiroiditis autoimun tidak diketahui, tetapi tampaknya terdapat kecenderungan genetik untuk mengidap penyakit ini. Penyebab yang paling sering ditemukan adalah tiroiditis Hashimoto. Pada tiroiditis Hashimoto, kelenjar tiroid seringkali membesar dan hipotiroidisme terjadi beberapa bulan kemudian akibat rusaknya daerah kelenjar yang masih berfungsi. Tubuh menyerang kelenjar tiroid karena menganggapnya sebagai sel asing sehingga pada akhirnya sel-sel dalam kelenjar tiroid mati dan tidak dapat menghasilkan hormon tiroid. Mengapa ini terjadi, belum diketahui, tetapi sering diturunkan dalam keluarga dan berkaitan dengan penyakit autoimun lainnya seperti diabetes tipe 1 dan lupus atau sindrom sjogren;
2. Mengalami kehilangan jaringan tiroid. Biasanya terjadi secara sekunder akibat penyinaran (radiasi) atau operasi kelenjar tiroid yang dilakukan sebagai pengobatan hipertiroidisme. Baik yodium radioaktif maupun pembedahan cenderung menyebabkan hipotiroidisme.
3. Gondok endemik adalah hipotiroidisme akibat defisiensi iodium dalam makanan. Gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid. Pada defisiensi iodium terjadi gondok karena sel-sel tiroid menjadi aktif berlebihan dan hipertrofik dalam usaha untuk menyerap sernua iodium yang tersisa dalam darah. Kadar HT yang rendah akan disertai kadar TSH dan TRH yang tinggi karena minimnya umpan balik. Kekurangan yodium jangka panjang dalam makanan, menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme goitrosa). Kekurangan yodium jangka panjang merupakan penyebab tersering dari hipotiroidisme di negara terbelakang.
4. Karsinoma tiroid dapat, tetapi tidak selalu menyebabkan hipotiroidisme. Namun, terapi untuk kanker yang jarang dijumpai ini antara lain adalah tiroidektomi, pemberian obat penekan TSH, atau terapi iodium radioaktif untuk menghancurkan jaringan tiroid. Semua pengobatan ini dapat menyebabkan hipotiroidisme. Pajanan ke radiasi, terutama masa anak-anak, adalah penyebab kanker tiroid. Defisiensi iodium juga dapat meningkatkan risiko pembentukan kanker tiroid karena hal tersebut merangsang proliferasi dan hiperplasia sel tiroid.
5. Adanya kelainan kongenital, yaitu bayi yang lahir tanpa kelenjar tiroid atau kelenjar tiroidnya tidak berfungsi normal; dan
6. Mengonsumsi obat-obatan, contohnya lithium yang sering digunakan untuk terapi gangguan mood.

Hipotiroidisme lebih sering terjadi diantara wanita daripada pria, dan insidennya meningkat sejalan pertambahan usia. Riwayat keluarga yang positif juga meningkatkan resiko seseorang. Menguji wanita berusia 50 tahun atau lebih dan mereka dengan profil lipid tidak normal adalah pertimbangan yang masuk akal, prevalensi penyakit ini pada orang tua mungkin mencapai 10 %.
Kondisi hipotiroid dapat diakibatkan oleh penyebab primer, dari kegagalan kelenjar memproduksi hormon yang adekuat, atau sekunder, dari penyakit hipofisis atau hipotalamus. Dalam hipotiroid primer, TSH akan meningkat. Jika asal masalahnya diantara aksis hipotalamus-hipofisis, TSH akan rendah.

D. Patofisiologi
Patofisiologi hipotiroidisme didasarkan atas masing-masing penyebab yang dapat menyebabkan hipotiroidisme, yaitu :
1. Hipotiroidisme sentral (HS)
Apabila gangguan faal tiroid terjadi karena adanya kegagalan hipofisis, maka disebut hipotiroidisme sekunder, sedangkan apabila kegagalan terletak di hipothalamus disebut hipotiroidisme tertier. 50% HS terjadi karena tumor hipofisis. Keluhan klinis tidak hanya karena desakan tumor, gangguan virus, sakit kepala, tetapi juga karena produksi hormon yang berlebih (ACTH penyakit Cushing, hormon pertumbuhan akromegali, prolaktin galaktorea pada wanita dan impotensi pada pria). Urutan kegagalan hormon akibat desakan tumor hipofisis lobus anterior adalah gonadotropin, ACTH, hormon hipofisis lain, dan TSH.
2. Hipotiroidisme Primer (HP)
Hipogenesis atau agenesis kelenjar tiroid. Hormon berkurang akibat anatomi kelenjar. Jarang ditemukan, tetapi merupakan etiologi terbanyak dari hipotiroidisme kongenital di negara barat. Umumnya ditemukan pada program skrining massal. Kerusakan tiroid dapat terjadi karena, 1. Operasi, 2. Radiasi, 3. Tiroiditis autoimun, 4. Karsinoma, 5. Tiroiditis subakut, 6. Dishormogenesis, dan 7. Atrofi
Pascaoperasi. Strumektomi dapat parsial (hemistrumektomi atau lebih kecil), subtotal atau total. Tanpa kelainan lain, strumektomi parsial jarang menyebabkan hipotiroidisme. Strumektomi subtotal M. Graves sering menjadi hipotiroidisme dan 40% mengalaminya dalam 10 tahun, baik karena jumlah jaringan dibuang tetapi juga akibat proses autoimun yang mendasarinya.
3. Pascaradiasi.
Pemberian RAI (Radioactive iodine) pada hipertiroidisme menyebabkan lebih dari 40-50% pasien menjadi hipotiroidisme dalam 10 tahun. Tetapi pemberian RAI pada nodus toksik hanya menyebabkan hipotiroidisme sebesar <5%. Juga dapat terjadi pada radiasi eksternal di usia <20 tahun : 52% 20 tahun dan 67% 26 tahun pascaradiasi, namun tergantung juga dari dosis radiasi.
Tiroiditis autoimun. Disini terjadi inflamasi akibat proses autoimun, di mana berperan antibodi antitiroid, yaitu antibodi terhadap fraksi tiroglobulin (antibodi-antitiroglobulin, Atg-Ab). Kerusakan yang luas dapat menyebabkan hipotiroidisme. Faktor predisposisi meliputi toksin, yodium, hormon (estrogen meningkatkan respon imun, androgen dan supresi kortikosteroid), stres mengubah interaksi sistem imun dengan neuroendokrin. Pada kasus tiroiditis-atrofis gejala klinisnya mencolok. Hipotiroidisme yang terjadi akibat tiroiditis Hashimoto tidak permanen.
4. Tiroiditis Subakut (De Quervain).
Nyeri di kelenjar/sekitar, demam, menggigil. Etiologi yaitu virus. Akibat nekrosis jaringan, hormon merembes masuk sirkulasi dan terjadi tirotoksikosis (bukan hipertiroidisme). Penyembuhan didahului dengan hipotiroidisme sepintas.
5. Dishormogenesis.
Ada defek pada enzim yang berperan pada langkah-langkah proses hormogenesis. Keadaan ini diturunkan, bersifat resesif. Apabila defek berat maka kasus sudah dapat ditemukan pada skrining hipotiroidisme neonatal, namun pada defek ringan, baru pada usia lanjut.
6. Karsinoma.
Kerusakan tiroid karena karsinoma primer atau sekunder, amat jarang.
7. Hipotiroidisme sepintas.
Hipotiroidisme sepintas (transient) adalah keadaan hipotiroidisme yang cepat menghilang. Kasus ini sering dijumpai. Misalnya pasca pengobatan RAI, pasca tiroidektomi subtotalis. Pada tahun pertama pasca operasi morbus Graves, 40% kasus mengalami hipotiroidisme ringan dengan TSH naik sedikit. Sesudah setahun banyak kasus pulih kembali, sehingga jangan tergesa-gesa memberi substitusi. Pada neonatus di daerah dengan defisiensi yodium keadaan ini banyak ditemukan, dan mereka beresiko mengalami gangguan perkembangan saraf.

Hipotiroidisme dapat terjadi akibat pengangkatan kelenjar tiroid dan pada pengobatan tirotoksikosis dengan RAI. Juga terjadi akibat infeksi kronis kelenjar tiroid dan atropi kelenjar tiroid yang bersifat idiopatik.
Prevalensi penderita hipotiroidisme meningkat pada usia 30 sampai 60 tahun, empat kali lipat angka kejadiannya pada wanita di bandingkan pria. Hipotiroidisme kongenital di jumpai satu orang pada empat ribu kelahiran hidup.
Jika produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar tiroid akan berkompensasi untuk meningkatkan sekresinya sebagai respons terhadap rangsangan hormon TSH. Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid akan menurunkan laju metabolisme basal yang akan mempengaruhi semua sistem tubuh. Proses metabolik yang dipengaruhi antara lain :
a. Penurunan produksi asam lambung (aclorhidia)
b. Penurunan motilitas usus
c. Penurunan detak jantung
d. Gangguan fungsi neurologik
e. Penurunan produksi panas

Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme lemak dimana akan terjadi peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida sehingga klien berpotensi mengalami atherosklerosis Akumulasi proteoglicans hidrophilik di rongga intertisial seperti rongga pleura, cardiak dan abdominal sebagai tanda dari mixedema. Pembentukan eritrosit yang tidak optimal sebagai dampak dari menurunnya hormon tiroid memungkinkan klien mengalami anemi.
E. Gejala dan Diagnosa
Spektrum gambaran klinik hipotiroidisme sangat lebar, mulai dari keluhan cepat lelah atau mudah lupa sampai gangguan kesadaran berat (koma miksedema). Dewasa ini sangat jarang ditemukan kasus-kasus dengan koma miksedema. Gejala yang timbul pada penderita hipotiroidisme antara lain ekspresi wajah menjadi tumpul, suara serak dan berbicara menjadi lambat, kelopak mata menutup, mata dan wajah menjadi bengkak.
Banyak penderita hipotiroidisme mengalami penambahan berat badan, sembelit, dan tidak tahan terhadap cuaca dingin. Rambut menjadi tipis juga kasar dan kering, kulit menjadi kasar, kering, bersisik, dan menebal. Banyak penderita yang mengalami sindrom terowongan karpal. Denyut nadi melambat, telapak tangan dan telapak kaki tampak agak oranye (karotenemia), dan alis mata bagian samping mulai rontok.
Beberapa penderita hipotiroidisme, terutama yang berusia lanjut, menjadi pelupa, bingung bahkan pikun. Apabila tidak diobati, pada akhirnya akan terjadi anemia dan gagal jantung. Keadaan ini dapat berkembang menjadi koma (koma miksidema). Pada keadaan ini, pernafasan menjadi lambat, penderita mengalami kejang, dan aliran darah ke otak berkurang.
Organ / Sistem Organ Gejala/Keluhan/Kelainan
Kardiovaskuler Bradikardia
Gangguan kontraktilitas
Penurunan Curah jantung
Kardiomegali (paling banyak disebabkan oleh efusi perikard)
Respirasi Sesak dengan aktivitas
Gangguan respon ventilasi terhadap hiperkapnia dan hipoksia
Hipoventilasi
Sleep apnea
Efusi Pleura
Gastrointestinal Anoreksia
Penurunan peristaltik usus
konstipasi kronik, impaksi feses dan
ileus
Ginjal (air dan elektrolit) Penurunan laju filtrasi ginjal
Penurunan kemampuan ekskresi kelebihan cairan ¬-> intoksikasi
cairan dan hiponatremia
Hematologi Anemia, disebabkan:
Gangguan sintesis hemoglobin karena defisiensi tiroksin
Defisiensi besi karena hilangnya besi pada menoragia dan
gangguan absorbsi besi
Defisiensi asam folat karena gangguan absorbsi asam folat
Anemia pernisiosa
Neuromuscular Kelemahan otot proksimal
Berkurangnya refleks
Gerakan otot melambat
Kesemutan
Psikiatri Depresi
Gangguan memori
Gangguan kepribadian
Endokrin Gangguan pembentukan estrogen gangguan ekskresi FSH dan
LH, siklus anovulatoar, infertilitas, menoragia


Koma miksedema merupakan salah satu keadaan klinis hipotiroidisme yang jarang dijumpai dan merupakan merupakan keadaan yang kritis dan mengancam jiwa. Terjadi pada pasien yang lama menderita hipotiroidisme berat tanpa pengobatan sehingga suatu saat mekanisme adaptasi tidak dapat lagi mempertahankan homeostasis tubuh. Koma miksedema ditegakkan dengan :
1. Tanda dan gejala klinis keadaan hipotiroidisme dekompensata.
2. Perubahan mental, letargi, tidur berkepanjangan (20 jam atau lebih).
3. Defek termoregulasi, hipotermia.
4. Terdapat faktor presipitasi : kedinginan, infeksi, obat-obatan (diuretik, tranguilizer, sedatif, analgetik), trauma, stroke, gagal jantung, perdarahan saluran cerna.

Pemeriksaan fisik menunjukkan tertundanya pengenduran otot selama pemeriksaan refleks. Penderita tampak pucat, kulitnya kuning, pinggiran alis matanya rontok, rambut tipis dan rapuh, ekspresi wajahnya kasar, kuku rapuh, lengan dan tungkainya membengkak serta fungsi mentalnya berkurang. Tanda-tanda vital menunjukkan perlambatan denyut jantung, tekanan darah rendah dan suhu tubuh rendah. Pemeriksaan rontgen dada bisa menunjukkan adanya pembesaran jantung. Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui fungsi tiroid biasanya menunjukkan kadar T4 yang rendah dan kadar TSH yang tinggi.
Hipotiroidisme umumnya lebih sering dijumpai pada wanita, dengan perbandingan angka kejadian hipotiroidisme primer di Amerika adalah 3,5 per 1000 penduduk untuk wanita dan 0,6 per 1000 penduduk untuk pria. The Third National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES III) yang melakukan survey pada 17.353 individu yang mewakili populasi di Amerika Serikat melaporkan frekuensi hipotiroidisme sebesar 4,6% dari populasi (0,3% dengan klinis jelas dan 4,3% sub klinis). Lebih banyak ditemukan pada wanita dengan ukuran tubuh yang kecil saat lahir dan indeks massa tubuh yang rendah pada masa kanak-kanak. Dan prevalensi hipotiroidisme ini lebih tinggi pada ras kulit putih (5,1%) dibandingkan dengan ras hispanik (4,1%) dan Afrika-Amerika (1,7%). Hipotiroidisme merupakan suatu penyakit kronik yang sering ditemukan di masyarakat. Diperkirakan prevalensinya cukup tinggi di Indonesia mengingat sebagian besar penduduk bermukim didaerah defesiensi iodium. Sebaliknya di negara-negara Barat, penyebab tersering adalah tiroiditis autoimun. Gejala-gejala klinis hipotiroidisme sering tidak khas, juga dapat ditemukan pada orang normal atau penyakit-penyakit lain, maka untuk menegakkan diagnosisnya perlu diperiksa fungsi tiroid. Pemeriksaan faal tiroid yang sudah tervalidasi adalah kadar TSH dan FT4 (Free Thyroxine). Kesalahan dalam mendiagnosis hipotiroidisme dapat berakibat berbagai efek yang tidak diinginkan oleh terapi hormon tiroid, sementara penyakit dasar yang sebenarnya tidak terdiagnosis. Tindakan operasi pada pasien dengan penyakit tiroid hampir semua bersifat elektif, mengingat risiko kematian perioperatif meningkat pada pasien dengan penyakit tiroid yang tidak terkontrol atau tidak terdiagnosis. Selain pengaruhnya yang dominan pada sistem kardiovaskular, hipotiroidisme juga mempengaruhi pemberian obat-obat anestesi akibat peningkatan atau penurunan bersihan dan volume distribusi obat pada kondisi hipometabolisme.
F. Penatalaksanaan selama Kehamilan
PENANGANAN UMUM
• Berkaitan dengan tingginya angka kejadian infertilitas, wanita dengan hipotiroid lebih banyak ditatalaksana untuk hamil.
• Angka keberhasilan fertilitas sangat rendah.
• Penatalaksanaan kasus ini lebih banyak ke arah peningkatan kualitas hidup wanita secara umum.
• Penanganan dilakukan secara interdisipliner.

PENILAIAN KLINIK
• Gejala umum yang ditemukan adalah kelelahan, anoreksia dan berat badan yang cenderung menurun.
• Sekitar 5% dari kasus hipotiroid, tidak menunjukkan peningkatan antibodi mikrosomal, anti trogobulin, penghambat TSH, pemicu pertumbuhan dan sitotoksik.
• Kadar T4 serum dan T4 bebas di bawah normal dan diagnosis hipotiroid mengandalkan pengukuran konsentrasi TSH dan kadar T3 serta T4.
• Pada pemeriksaan kulit terasa kasar, kering dan dingin. Suara agak tinggi, kadang-kadang terdengar ronkhi. Reflkeks fisiologis, daya pikir dan bicara agak lambat. Sering dijumpai retensi cairan pada jaringan longgar. Pada kondisi yang berat¸dapat timbul hipotermia, hipoventilasi, bradikardia, amenorea dan depresi.
Gejala tiroiditis Hashimoto acapkali menjadi lebih baik. Akan tetapi, peningkatan produksi TSH dapat menimbulkan pembesaran kelenjar hipofise. Kehamilan pada wanita dengan hipotiroidisme yang tidak diobati akan menghadapi resiko yang lebih besar untuk mengalami abortus dan prematuritas, kendati keadaan ini dapat disebabkan oleh peningkatan kerentanan yang mnyertai penyakit tersebut terhadap serangan infeksi (Fitzgerald, 1995). Perkembangan neurologis neonatus yang subnormal dan IQ yang rendah pada bayi berkaitan dengan hipotiroidisme yang tidak diobati pada kehamilan (Hague, 1995). Hipertensi karena kehamilan merupakan komplikasi yang terjadi pada 22-24 persen kehamilan yang dialami oleh wanita dengan hipotiroidisme (Mantoro, 1997). Sebagian gambaran hipotiroidisme (kenaikan berat badan, perasaan lelah, letargi, konstipasi, goitre, retensi cairan, gangguan daya ingat, dan nyeri persendian) mudah dikelirukan dengan kehamilan yang normal; karena itu, TFT (tes faal tiroid) sangat penting untuk menegakkan diagnosis. (Pada hipotiroidisme, TSH akan meninggi dan konsentrasi tiroid bebas menurun).
Hipotiroidisme diobati dengan terapi sulih hormon tiroksin. Jika pasien mendapatkan preparat tiroksin dengan dosis berlebihan, tanda dan gejala hipertiroidisme akan muncul. Tiroksin tidak melintasi plasenta. Walaupun sebagian penulis menyatakan bahwa kebanyakan wanita yang berada dalam keadaan eutiroid pada saat terjadinya pembuahan tidak memerlukan pengaturan dosis selama kehamilan (Girling, 1996), namun sebagian lainnya menekankan pentingnya pemantauan fungsi tiroid secara teratur dan memperkirakan terjadinya peningkatan kebutuhan tiroksin selama kehamilan (Monotoro, 1997). Ensefalopati neonatal dengan gejala sisa yang permanen dapat terjadi lebih sering pada ibu hamil denagn hipotiroidisme yang tidak mendapatkan pemantauan secara teratur selama kehamilannya (Badawi et al, 2000). Dianjurkan untuk melakukan minimal satu kali TFT yang penuh dalam setiap trimester (Hague, 1995).
Ibu hamil dengan hipotiroidisme biasanya sensitif terhadap preparat oploid dan dapat jatuh ke dalam keadaan stupor atau meninggal dunia jika diberikan preparat oploid dengan dosis rata-rata, misalnya 50 mg petidin, untuk meredakan rasa nyeri dalam persalinan (Malseed et al, 1995)
Hipotiroidisme akan disertai dengan depresi postpartum yang dapat terjadi setiap saat dalam waktu satu tahun sesudah melahirkan (Campbell & Lees, 2000). Pemberian ASI bukan kontraindikasi untuk terapi sulih hormon tiroid.
Tes faal tiroid (TFT) diperlukan pada wanita dengan depresi postpartum mengingat keadaan hipotiroidisme dapat diatasi dengan mudah.
Hipotiroidisme yang tidak diobati akan menyebabkan kegagalan dalam pemberian ASI (laktasi). Jika keadaan ini dicurigai, TFT harus dilakukan.

Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang ditandai oleh eksaserbasi (perburukan) semua gejala hipotiroidisme termasuk hipotermi tanpa menggigil, hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi, dan penurunan kesadaran hingga koma. Kematian dapat terjadi apabila tidak diberikan HT dan stabilisasi semua gejala. Dalam keadaan darurat (misalnya koma miksedem), hormon tiroid bisa diberikan secara intravena. Hipotiroidisme diobati dengan menggantikan kekurangan hormon tiroid, yaitu dengan memberikan sediaan per-oral (lewat mulut). Yang banyak disukai adalah hormon tiroid buatan T4. Bentuk yang lain adalah tiroid yang dikeringkan (diperoleh dari kelenjar tiroid hewan). Pengobatan pada penderita usia lanjut dimulai dengan hormon tiroid dosis rendah, karena dosis yang terlalu tinggi bisa menyebabkan efek samping yang serius. Dosisnya diturunkan secara bertahap sampai kadar TSH kembali normal. Obat ini biasanya terus diminum sepanjang hidup penderita. Pengobatan selalu mencakup pemberian tiroksin sintetik sebagai pengganti hormon tiroid. Apabila penyebab hipotiroidisme berkaitan dengan tumor susunan saraf pusat, maka dapat diberikan kemoterapi, radiasi, atau pembedahan.













BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hipotiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tiroid kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid terutama tiroksin (T4) dan triiodothyronine (T3). Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus Spektrum gambaran klinik hipotiroidisme sangat lebar, mulai dari keluhan cepat lelah atau mudah lupa sampai gangguan kesadaran berat (koma miksedema). Jika fungsi tiroid terkontrol dengan baik, hasil akhir kehamilan cenderung baik pula. Akan tetapi, penyakit tiroid yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan retardasi pertumbuhan intrauteri, partus prematurus, peningkatan mortalitas perinatal atau kelainan kongenital.

B. Saran
Profesional kesehatan termasuk bidan harus memahami berbagai manifestasi kelainan tiroid yang sering membingungkan, dan melaksanakan pemeriksaan fungsi tiroid segera.












DAFTAR PUSTAKA

Akmal, Mutaroh., Zely Indahaan.,dkk. 2010. Ensiklopedi kesehatan untuk umum. Jogjakarta: Ar-ruzz Media
Jordan, Sue. 2002. Farmakologi Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Price, Sylvia. 2002. Patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Varney, Helen.,dkk. 2003. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

http://yayansrisuryani09157.blogspot.com/2011/06/asuhan-keperawatan-klien-dengan_26.html
http://medicastore.com/penyakit/125/Hipotiroidisme.html
·         Description: https://s-external.ak.fbcdn.net/safe_image.php?d=AQAS-gD836jZp4gV&w=90&h=90&url=http%3A%2F%2F4.bp.blogspot.com%2F--MVDN1xiGqU%2FTggNQd88unI%2FAAAAAAAAACg%2FyP5n3SzjBjQ%2Fs72-c%2Fk.jpg
yayansrisuryani09157.blogspot.com

KEBUTUHAN GIZI DAN KONSEP GIZI SEIMBANG


MAKALAH
KEBUTUHAN GIZI DAN KONSEP GIZI SEIMBANG
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Gizi dalam Kespro







KELAS REGULER B TINGKAT 1

Widhia Lestari              P17424311097

PRODI DIII KEBIDANAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2011 / 2012

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan segala rahmat-Nya serta karunia-Nya, sehingga penulis akhirnya mampu menyelesaikan makalah dengan judul “Kebutuhan Gizi dan Konsep Gizi Seimbang”.
Penulisan makalah ini dapat terselesaikan atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1.         Ibu Suparmi, S.Pd, S.SiT, M.Kes. selaku ketua program studi DIII Kebidanan Purwokerto.
2.         Ibu Rusmini, S. Kep. Ns. MH selaku sekretaris program studi DIII Kebidanan Purwokerto.
3.        Bp. Endo. selaku dosen pengampu mata kuliah Gizi dalam Kespro KebidananPurwokerto.
4.         Kedua orang tua penulis
5.         Teman – teman reguler B tingkat 1 prodi DIII Kebidanan Purwokerto.
6.         Seluruh pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini
Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mohon maaf karena faktor keterbatasan pengetahuan yang dimiliki penulis.
Kritik dan saran penulis harapkan demi penyempurnaan makalah-makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca dan dapat bermanfaat bagi kita semua.Amin.
Purwokerto,   Maret 2012

                                                                                                Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................................. iii
BAB I   PENDAHULUAN
A.. LatarBelakang ............................................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan ............................................................................................ 1
BAB II  PEMBAHASAN
A.  Pengertian Budaya ........................................................................................ 3
B.  Kesehatan Individu ........................................................................................ 3
C.  Derajat Kesehatan Individu diKotadanDesa................................................... 4
D.  Faktor - Faktor Budaya Individu yang Mempengaruhi
Derajat Kesehatan Masyarakat ..................................................................... 5
E.   Contoh Budaya Individu yang Dapat Mempengaruhi
Derajat Kesehatan Masyarakat...................................................................... 8
F.   Cara Seorang Bidan Menghadapi Masyarakat yang Tetap
Menjalankan Budaya Individu yang Berdampak Buruk................................. 9
BAB III  PENUTUP
A.   Kesimpulan................................................................................................... 10
B.   Saran............................................................................................................. 10           
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Visi pembangunan bidang kesehatan yaitu Indonesia Sehat 2010, diharapkan akan menjadikan masyarakat Indonesia untuk dapat hidup dalam lingkungan sehat dan ber perilaku hidup sehat. Indonesia sehat 2010 dimaksudkan juga untuk mendorong agar masyarakat dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata guna mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Manusia yang sehat tidak hanya sehat jasmani, tetapi juga sehat rohani. Sehingga tubuh sehat dan ideal dari segi kesehatan meliputi aspek fisik, mental dan sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit (Definisi Sehat WHO Tahun 1950). Semua aspek tersebut akan mempengaruhi penampilan atau performance setiap individu, dalam melakukan aktivitas sehari hari seperti bekerja, berkarya, berkreasi dan melakukan hal-hal yang produktif serta bermanfaat.
Kesehatan, pendidikan dan pendapatan setiap individu merupakan tiga faktor utama yang sangat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu setiap individu berhak dan harus selalu menjaga kesehatan, yang merupakan modal utama agar dapat hidup produktif, bahagia dan sejahtera.
Di dalam era globalisasi sekarang dimana terjadi perubahan gaya hidup dan pola makan, Indonesia menghadapi masalah gizi ganda. Di satu pihak masalah kurang gizi yaitu: gizi buruk, anemia, Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) dan Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan kendala yang harus ditanggulangi, namun masalah gizi lebih cenderung meningkat terutama di kota-kota besar.
Itu karena standart kecukupan gizi jarang diperhatikan oleh masyarakat. Kecukupan gizi adalah rata-rata asupan gizi harian yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi hampir semua (97,5%) orang sehat dalam kelompok umur, jenis kelamin dan fisiologis tertentu. Nilai asupan harian zat gizi yang diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan gizi mencakup 50% orang sehat dalam kelompok umur, jenis kelamin dan fisologis tertentu disebut dengan kebutuhan gizi.
Standart kecukupan gizi di Indonesia masih menggunakan makro,yaitu kecukupan kalori (energi) dan kecukupan protein. Di Indonesia belum diterapkan standart kecukupan gizi secara mikro, seperti kecukupan vitamin dan mineral.
B.        Tujuan Penulisan
1.       Tujuan umum :
            Makalahini disusun dengan tujuan untuk :
2.      Tujuan khusus :
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk :
a.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Gizi dalam Kespro.











BAB II
PEMBAHASAN

A.       Standar Kecukupan Gizi
Standart kecukupan gizi secara ukuran dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu:
·       Ukuran makro, yaitu kecukupan kalori (energi) dan kecukupan protein.
·       Ukuran mikro, yaitu kecukupan vitamin dan mineral.
1.         Kecukupan kalori (energi)
Energi dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan pekerjaan, tubuh memperoleh energi dari makanan yang dimakan, dan energi dalam makanan ini terdapat sebagai energi kimia yang dapat diubah menjadi energi bentuk lain. Bentuk energi yang berkaitan dengan proses-proses biologi adalah energi kimia, energi mekanis, senergi panas dan energi listrik..
Energi dalam tubuh digunakan untuk:
·       Melakukan pekerjaan eksternal;
·       Melakukan pekerjaan internal dan untuk mereka yang masih tumbuh;
·       Keperluan pertumbuhan, yaitu untuk senyawa-senyawa baru.,
Macam-macam makanan tidak sama banyaknya dalam menghasilkan energi,padahal manusia harus mendapatkan sejumlah makanan tertentu setiap harinya yang menghasilkan energi,terutama untuk mempertahankan proses kerja tubunya dan menjalankan kegiatan-kegiatan fisik.Untuk mengukur atau menentukan banyaknya energi yang dihasilkan makanan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a.    Langsung
Pengukuran atau penentuan banyaknya energi yang dihasilkan oleh makanan dengan menggunakan alat yang disebut bomb calorimeter.Dengan menggunakan alat tersebut akan dapat ditentukan atau diukur sejumlah kalori(untuk energi) yang dihasilkan zat makanan.Satu kalori adalah merupakan banyaknya panas yang digunakan untuk menaikan suhu 1 liter air sebanyak 1oC
b.    Secara tidak langsung
Pengukuran atau penentuan banyaknya energi yang dihasilkan oleh makanan atau bahan makanan melalui ustu penguraian kimiawi (analisa),denga pertama- tama di tentukan terlebih dahulu karbonhidratya, lemak , dan protein.
Penentuan kebutuhan kecukupan Energi
Cara-cara menentukan kebutuhan energi (kalori)
·       Teori RBW (teori berat badan relatif)
RBW = BB (Kg)/ TB(cm)-100X100 %
BB = Berat badan
TB = Tinggi badan
Dimana dengan ketentuan:
1.Kurus jika RBW < 90 %
2. Normal jika RBW = 90-100 %
3. Gemuk jika RBW >110 % atau -<120 %
4. Obesitas ringan RBW 120-130 %
5. Oesitas sedang RBW > 130-140 %
6. Obesitas berat RBW > 140 %
Kebutuhan kalori (energi) perhari
1.Orang kurus BB x 40-60 kalori
2.Orang normal BB x 30 kalori
3.Orang gemuk BB x 20 kalori
4.Orang Obesitas BB x (10 x15) kalori
Kalori di atas harus ditambah dengan kalori untuk kegiatan pregnansi dan laktasi. Kalori untuk orang hamil ditambah 100 kalori (tri semester I),ditambah 200 kalori (tri semester II), ditambah 300 kalori (tri semester III).
Bagi yang menyusui / laktasi ditambah 400 kalori per hari.kelemahanya bila menggunakan teori RBW adalah jenis kelamin dan umur tidak di akomodasikan .
Energi BMR (basal metabolisme rate)
Energi BMR adalah energi minimal untuk menjalankan proses kerja atau proses faal dalam tubuh dalam kondisi Resting Bed (berbaring istirahat di atas tempat tidur).
Determinasi Efektif Energi
Determinasi efektif adalah cara penelusuran yang efektif untuk menentukan kebutuhan energi per hari yang dibutuhkan seseorang.Determinasi efektif energi yang diambil oleh:
1. Pengawasan berat badan dan pengaturan-pengaturan energi yang sesuai
2 Penyesuaian energi digunakan jika beratnya memenuhi
3. Mneghitung energi seperti berikut:
a.) mengunakan formula Haris-Beneditc (BBE) untuk dua puluh empat jam didasarkan usia jenis kelamin dan ukuran pada individu dengan berat badan ideal sekitar1 kalori/kgjam x 24 jam.
b). Tambahan aktivitas seperti presentasi BBE sebagai berikut:
Tidak melakukan aktifitas ……………………… 20 %
Tenag…………………………………………….. 30 %
Aktifitas…………………………………………… 50-75 %
c). Penambahan dari 10 % dari hasil total untuk efek pada makanan , hasilya adalah totoal energi yang di perlukan dengan criteria:
Tidak aktif = kalori 10-12 kalori/ bb
Aktif = kalori 13-15 kalori/bb
Sangat aktif = kalori 16-20 kalori/bb
4. Metode yang lain untuk menunjukkan tingkat kegemukan perlu mengurangi 500-750 kalori dari energi total kebutuhan sehari-hari, untuk orang yang sangat gemuk dikurangi 1000 kal/hari.
5. Energi yang dibutuhkan anak-anak antara 36-45 kal /1b
Remaja laki-laki = 20-36 kal/1b
Remaja wanita = 15-20 kal /1b
Menurut Sawer Wein., menyatakan dengan rumus
BMR = 660 + (13,7) + (1,5 x 1) – (6,8 x a)….untuk laki-laki
BMR = 653 + (9,6 x w) + (1,7 x 1) -(4,7 x a)…untuk wanita
Dengan: BMR =Produk panas dalam 24 jam (kalori)
W = berat badan (kg)
L = tinggi badan (cm)
A = usia (th)
2.1.2 Kecukupan protein
Tubuh manusia memerlukan berbagai zat gizi yang satu sama yang lain saling mempengaruhi. Bayaknya protein dalam tubuh didasarkan oleh dua hal pokok berikut:
  1. Untuk memenuhi kebutuhan basal (minimal ) di mana apabila jumlah kebutuhan ini tidak dipengaruhi maka kesehatan tubuh akan terganggu dan pertumbuhan normal tidak akan tercapai.
  2. Sejumlah tambahan untuk mengimbangi adanya kerusakan infeksi , stress dan sebagainya.
Tubuh kita tidak dapat menghindari kehilangan-kehilangan protein terutama yang terjadi melalu air seni, kotoran(feses) dan kulit. Dari penelitian -penelitian diperoleh suatu formula yang di kenal dengan cara factorial (factorial method) untuk memperoleh angka kebutuhan protein sebagai berikut:
R =(U b + F b S + G) x 1,1
Keterangan
R = kebutuhan nitrogen per kg berat badan sehari
Ub= Kehilangan nitrogen basl melalui air seni per kg berat badan sehari
Fb = Kehilangan nitrogen basal melalui kotoran per kg sehari
S = Kehilangan nitrogen melalui kulit per kg berat badan sehari
G = Kebutuhan nitrogen untuk pertumbuhan per kg sehari
1,1 = tambahan 10 % untuk safety margin
Kehilangan nitrogen basal melalui air seni
Pengeluaran nitrogen melalui air seni ,keadaan ini melalui atau berhubungan dengan basal metabolisme. Dari penelitian tersebut ditentukan dengan radio 2 mg nitrogen per basal kalori dapat diterima dan angka kehilangan nitrogen air seni sebesar 46 mg nitrogen per kg berat bdan terhadap orang dewasa laki-laki. Basal metabolisme rate per kg berat badan pada wanita lebih rendah dari laki-laki.kehi-langan nitrogen lewat air seni terdapat lebih rendah pada wanita dibandingkan laki-laki. Pada bayi umur 6 bulan pengeluaran nitrogen lewat air seni ditemukan 36 mg per kg berat badan.
Kehilangan nitrogen basal melalui feses
Para ahli FAO menganjurkan angka 20 mg per kg berat badan untuk kehilangan nitrogen melalui feses.Dari penelitian -penelitian yang dilakukan angka kehilangan nitrogen lewat feses berkisar antara 9-23 mg per kg berat badan dengan rata-rata 12 mg per kg berat badan untuk orang laki-laki 9 mg nitrogen per kg berat badan.Untuk anak-anak rata-rata 31 mg nitrogen per kg berat badan. Pada bayi umur 6 bulan kebawah kehilangan nitrogen melalui 8 feses 20 mg per kg berat badan.
Kehilangan nitrogen melalui kulit
Kehilangan nitrogen lewat kulit dal;am praktik dapat diabaikan namun kemudian dilaporkan bahwa kehilangan tersebut sebesar 5 mg per kg berat badan pada orang dewasa laki-laki.pada wanita mencapai 3,6 mg per kg berat badan
Faktor lingkungan dan iklim berpengaruh terhadap banyak sedikitnya nitrogen yang hilang lewat kulit terutama melalui air keringat.
Kecukupan vitamin
Vitamin merupakan suatu molekul organic yang sangat diperlukan oleh tubuh untuk proses metabolisme dan pertumbuhan yang normal. Vitamin-vitamin tidak dapat dibuat oleh tubuh manusia dalam jumlah yang sangat cukup, oleh karena itu, harus diperoleh dari bahan pangan yang dikonsumsi. Sebagai perkecualian adalah vitamin D. Dalam bahan pangan hanya terdapat vitamin dalam jumlah yang relatif sangat kecil dan terdapat dalam bentuk yang berbeda-beda, diantaranya ada yang berbetuk provitamin atau calon vitamin (Precussor) yang dapat diubah dalam tubuh menjadi vitamin yang aktif.
Kecukupan mineral
Zat gizi dapat digolongkan, yaitu golongan Makromolekul (teh, protein dan lemak) serta mikromolekul vitamin dan mineral. Meskipun merupakan komponen yang paling vital untuk kehidupan, pada bahan pangan hewani dapat berupa daging (sapi, kerbau, kambing, ayam, unggas, kelinci dan lain-lain), sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber vitamin dan mineral. Komponen-komponen anorganik tubuh manusia terutama adalah Natrium, Kalium, Kalsium, Magnesium, Besi, Fosfor, Klorida dan Sulfur. Sebagian dari unsur-unsur tersebut adalah mineral-mineral tulang dan ion-ion dapat sebagai cairan tubuh. Mineral-mineral tersebut adalah bagian-bagian mustahak dari makanan. Unsur-unsur lain yang terdapat dalam jumlah sangat kecil disebut unsur-unsur runut (trace elements) yang juga adalah komponen-komponen makanan yang mustahak. Ini termasuk tembaga, moblibzenum, kobalt, mangan, zink, kromium, setenium, iodium dan fluor.
Penyerapan gizi dari berbagai jenis makanan telah diteliti dan dilaporkan oleh Martinez dan Torres (1971) yang menadakan penelitian dengan menggunakan sampel 524 orang dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Penyerapan gizi dari berbagai jenis makanan.
Besi dari komoditi
% Penyerapan
Beras
Kedelai
Jagung
Ikan
Hati
1 %
6 %
3 %
11 %
13 %
Yodium (i) merupakan mineral yang diperlukan tubuh dalam jumlah yang relatif sangat kecil, tetapi mempunyai peranan yang sangat penting untuk pembentukan hormon tiroksin. Hormon tiroksin ini sangat berperan dalam metabolisme sehingga dalam keadaan konsumsi yodium yang rendah, kelenjar gondok akan berupaya membuat konpensasi dengan membesrakan kelenjarnya. Frevalensi pembeseran kelenjar gondok di indonesia temasuk sangat tingi. Karenanya defesiensi yudium atau gondok andemik merupakan salah satu masalah gizi utama.
Kebutuhan yodium per hari sekitar 1-2 g per kg berat badan. Perkiraan kecukupan yang dianjurkan sekitar 40-120 g per hari untuk anak samapi umur 10 tahun, dan 150 g per hari untuk orang dewasa. Untuk wanita dan menyusui dianjurkan tambahan masaing-masing 25 g dan 50 g per hari.
Zat gizi dapat digolongkan, yaitu golongan Makromolekul (teh, protein dan lemak) serta mikromolekul vitamin dan mineral. Meskipun merupakan komponen yang paling vital untuk kehidupan, pada bahan pangan hewani dapat berupa daging (sapi, kerbau, kambing, ayam, unggas, kelinci dan lain-lain), sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber vitamin dan mineral. Komponen-komponen anorganik tubuh manusia terutama adalah Natrium, Kalium, Kalsium, Magnesium, Besi, Fosfor, Klorida dan Sulfur. Sebagian dari unsur-unsur tersebut adalah mineral-mineral tulang dan ion-ion dapat sebagai cairan tubuh. Mineral-mineral tersebut adalah bagian-bagian mustahak dari makanan. Unsur-unsur lain yang terdapat dalam jumlah sangat kecil disebut unsur-unsur runut (trace elements) yang juga adalah komponen-komponen makanan yang mustahak. Ini termasuk tembaga, moblibzenum, kobalt, mangan, zink, kromium, setenium, iodium dan fluor.
Penyerapan gizi dari berbagai jenis makanan telah diteliti dan dilaporkan oleh Martinez dan Torres (1971) yang menadakan penelitian dengan menggunakan sampel 524 orang dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Penyerapan gizi dari berbagai jenis makanan.
Besi dari komoditi
% Penyerapan
Beras
Kedelai
Jagung
Ikan
Hati
1 %
6 %
3 %
11 %
13 %
Yodium (i) merupakan mineral yang diperlukan tubuh dalam jumlah yang relatif sangat kecil, tetapi mempunyai peranan yang sangat penting untuk pembentukan hormon tiroksin. Hormon tiroksin ini sangat berperan dalam metabolisme sehingga dalam keadaan konsumsi yodium yang rendah, kelenjar gondok akan berupaya membuat konpensasi dengan membesrakan kelenjarnya. Frevalensi pembeseran kelenjar gondok di indonesia temasuk sangat tingi. Karenanya defesiensi yudium atau gondok andemik merupakan salah satu masalah gizi utama.
Kebutuhan yodium per hari sekitar 1-2 g per kg berat badan. Perkiraan kecukupan yang dianjurkan sekitar 40-120 g per hari untuk anak samapi umur 10 tahun, dan 150 g per hari untuk orang dewasa. Untuk wanita dan menyusui dianjurkan tambahan masaing-masing 25 g dan 50 g per hari.
    

B.        Standart kecukupan gizi pada masing-masing kelompok usia pertumbuhan dan pada keadaan fisiologis tertentu.
Bagi makhluk hidup tidak terkecuali, makanan yang bergizi sangat penting bagi kesehatannya. Makanan dapat menyebabkan kita sehat, makanan juga dapat menyeababkan kita sakit, tetapi dengan makanan pula kita dapat menyembuhkan penyakit. Dalam konteks islam sebagai agama samawi yang membawa misi rahmatan lilalamin sangat memperhatikan makanan pemeluknya. Ajaran manusia harus makan dapat kita jumpai pada surat al-anbiya ayat 8, Al A’raaf: 19, Al Baqarah: 35, Yasin: 33, 57, dan lain sebagainya. Sedangkan anjuran makan makanan yang halan dan thoyyibah, kita jumpai dalam beberapa ayat diantaranya adalah Al Baqarah: 168, Al Maidah;88, dan An Nahl:144. Makna thoyyiban tidak saja menyangkut bahwa makanan tersebut adalah baik dari segi cara memperolehnya, tetapi punya makna dapat mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan yang memakannya. Rasulullah Muhammad SAW sendiri telah memberikan ciri khas musl;im tentang makan, yang arti bebasnya diantaranya adalah:
  1. Kami ini adalah suatu kaum yang tidak makan kecuali lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.
  2. Orang kafir itu makan untuk 7 perutnya sedangkan orang mukmin makan untuk satu perutnya.
  3. Dan jangan kau gapai makanan kecuali yang ada di hadapanmu.
Islam sendiri telah memberikan konsep ketahan pangan (makanan) baik secara kualitas maupun kuantitas dalam komunitas mikro. Setiap muslim dalam komunitas mikro mendapatkan amanah untuk senantiasa menjaga ketahanan pangan (makanan) anjuran dalam memperbanyak kuah dalam memasak sayur yang kemudian daiantar ketetangganya, celaka bagi seseorang yang dapat tidur lelap, sedanbgkan tetangganya tidak dapat tidur karena kelaparan, merupakan beberapa contoh bahwa islam sangat peduli bagi ketahanan pangan (makanan) pada komunitas mikro.
Pemerintah indonesia sendiri juga telah banyak melakukan usaha untuk menuingkatkan keamanan pangan dan status gizi masyarakat. Banyak kegiatan UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga) telah banyak dilakukan oleh pemerintah. Namun demikian masih cukup banyak kelompok yang rentan gizi yang lebih cenderung kepada kekurangan gizi (defisiensi gizi, under nutrions)daripada kelebihan gizi (over nutrion). Kelompok tersebut adalah:
  1. Bayi
  2. Anak balita
  3. Anak sekolah
  4. Remaja
  5. Ibu hamil
  6. Ibu menyusui, dan
  7. Lanjut usia
Dari ketujuh kelompok rentan gizi tersebut yang dapat perhatian khusus pemerintah adalah Ibu hamil atau menyusui dan BALITA. Hal ini dimaksudkian agar terlahir generasi yang potensial yang pertumbuhannya, perkembangan, dan kesehatannya tidak terganggu oleh asupan gizi yang kurang.
2.2.1 Standart kebutuhan gizi untuk masa balita
Di indonesia kelompok anak BALITA menunjukkan prevalansi paling tinggi untuk menderita KKP dan devensiasi vitamin A serta anemia devensiasi gizi Fe.kelompok umur ini sulit di jangkau oleh berbagai upaya kegiatan perbaikan gizi dan kesehatan lainya,karena tidak dapat sendiri ke tempat pelayanan gizi dan kesehatan.perbaikan gizi kelompok BALITA,program PMT (Pemberian Makanan Tambahan) dan UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga).Di taman BALITA diadakan upaya rehabilitasiderita KKP dan melatih para ibu dan mereka yang bertanggung jawabatas pengurusan BALITA di dalam keluarga,bagaimana mengurus dan memasak serta menyediakan makanan bergizi untuk anak BALITA.proyek PMT berupa pemberian makanan bergizi suplemen pada makanan anak BALITA yang biasa dikomsumsi untuk terapi dan rehabilitasi anak-anak yang kondisi gizinya tidak memuaskan.kegiatan-kegiatan diatas terutama ditujukkan pada masyarakat yang kurang mampu.sedangkan progam UPGK merupakan upaya pendidikan terpadu untuk menigkatkan produksi bahan makanan bergizi di lahan pekarangan sekitar rumah,dipergunakan untuk komsumsi menigkatkan kondisi kesehatan keluarga.
Untuk menjamin pertumbuhan,perkembangan,dan kesehatan BALITA,maka perlu asupan gizi yang cukup.Menurut anjuran makanan satu hari yang dikeluarkan Departemen Kesehatan RI untuk anak usia1-3 tahun membutuhkan 1,5 mangkok nasi (@ 200g) atau padananya,0,5 ikan (50g) atau padananya,2 tempe (@ 25 g) atau padanannya, semangkok sayur (1000g),seiris buah pepaya (100 g) atau padanannya,dan segelas susu (200 ml) Bagi anak usia 4-6 tahun membutuhkan 2 mangkok nasi (@200g) atau padanannya,1 ikan (50 kg) atau padananya 3 tempe (@25g) atau padanannya ,i,5 mangkok sayur (100 g) ,2 iris buah pepaya(@100g) atau padanannya, dan segelas susu (200 ml).Asupan gizi tersebut akan menjamin tercukupinya kebutuhan kalori untuk BALITA antara 1360-1830 kalori/anak /hari dan kebutuhan protein untuk BALITA antara 16-20 g/anak /hari.
Standart kebutuhan gizi untuk masa remaja.
Masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan proses kematangan manusia, pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan. Perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan mempengaruhi status kesehatan dan gizinya. Ketidakseimbangan antara asupan kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi, baik itu berupa masalah gizi lebih maupun gizi kurang.
Status gizi dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium maupun secara antropometri. Kekurangan kadar hemoglobin atau anemi ditentukan dengan pemeriksaan darah. Antropometri merupakan cara penentuan status gizi yang paling mudah dan murah. Indeks Massa Tubuh (IMT) direkomendasikan sebagai indikator yang baik untuk menentukan status gizi remaja.
Masalah gizi pada remaja akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat, misalnya penurunan konsentrasi belajar, risiko melahirkan bayi dengan BBLR, penurunan kesegaran jasmani. Banyak penelitian telah dilakukan menunjukkan kelompok remaja menderita/mengalami banyak masalah gizi. Masalah gizi tersebut antara lain Anemi dan IMT kurang dari batas normal atau kurus. Prevalensi anemi berkisar antara 40%-88%, sedangkan prevalensi remaja dengan IMT kurus berkisar antara 30%-40%. Banyak faktor yang menyebabkan masalah ini. Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi masalah gizi tersebut membantu upaya penanggulangannya dan lebih terpengaruh dan terfokus.
Metodologi : Analisis didasarkan pada data dari studi dengan rancangan potong lintang yang berasal dari studi morbiditas dan disabilitas SKRT 2001 dan data SUSENAS 2002. Sampel dalam analisis ini adalah remaja umur 10-19 tahun yang mempunyai data lengkap yang diperlukan. Anemi ditentukan dengan metode hemoque, dan digunakan batasan anemi menurut umur dari WHO. Gizi kurang atau kurus ditentukan dengan batasan BMI menurut umur dari WHO dengan batas kurus < 5 percentile.
Faktor yang menjadi variabel independen dalam analisis ini masing-masing terdiri dari 15 variabel yaitu : pendidikan, umur, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, aktifitas fisik, kebiasaan merokok, kebiasaan minum minuman keras, kebiasaan sarapan pagi, konsumsi obat modern, konsumsi obat tradisional, kecukupan konsumsi energi, sakit diderita satu tahun lalu, keluhan sakit satu bulan lalu dan anemi maupun IMT.
Untuk analisis lanjut, variabel kandidat dipilih berdasarkan analisis bivariat dengan nilai p < 0,05. Analisis regresi logistik ganda dilakukan untuk mendapatkan secara bersih hubungan variabel dependen dan independen, sehingga diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi anemi maupun gizi kurang/kurus pada remaja.
Hasil : Prevalensi anemi pada remaja sebesar 25,5 % dengan rincian laki-laki 21 % dan 30 % pada perempuan. Prevelensi lebih besar di perdesaan (27 %) dibanding di perkotaan 22,6 %. Prevalensi gizi kurang dengan IMT < 5 persentil, sebesar 17,4 % dengan rincian 20, 7 % pada laki-laki dan 14,1 % pada perempuan. Prevalensi kurus lebih tinggi di perdasaan (18,7 % ) dibandingkan di perkotaan (15,4 %). Gambaran gaya hidup yang diwakili oleh 7 variabel, menunjukkan 88,71% responden menggunakan waktunya beraktifitas dengan aktif.
Kebiasaan merokok ditemukan pada sekitar 10% dari responden, sedangkan konsumsi minuman keras 1,2%. Umumnya responden telah terbiasa melakukan sarapan pagi (94%). Kecukupan energi yang berasal dari beras menunjukkan hanya sebanyak 38,3% remaja mengkonsumsi > 70% dari kecukupan yang dianjurkan. Status kesehatan dalam analisis ini diwakili dua variabel yaitu sakit yang diderita 1 tahun lalu dengan jumlah 7 % dan dan keluhan sakit 1 bulan lalu dengan jumlah 40 %.
Hasil analisis pada variabel dependen anemi menunjukkan dari 4 variabel sosial ekonomi dan demografi, didapat 3 variabel yang dapat menjadi kandidat untuk analisis multivariabel (p < 0,25) yaitu pendidikan, jenis kelamin dan wilayah. Umur secara teori termasuk variabel yang berpengaruh, sehingga walaupun dalam analisis bivariat tidak memenuhi kriteria sebagai variabel kandidat, namun dalam analisis lebih lanjut dimasukkan sebagai variabel kandidat.
Dari keempat variabel, faktor resiko menjadi anemi hampir sama, kecuali jenis kelamin pria yang resiko menjadi anemi hanya 0,6 kali dibanding perempuan. Dari ketujuh variabel gaya hidup, 3 variabel diantaranya memenuhi syarat menjadi variabel kandidat dalam analisis regresi logistik ganda anemi yaitu merokok, kebiasaan sarapan pagi dan kecukupan konsumsi energi.
Responden yang merokok mempunyai risiko 1,35 kali lebih tinggi menjadi anemi dibanding yang tidak merokok. Dari 3 variabel status kesehatan, kesemuanya memenuhi syarat menjadi variabel kandidat. Sakit yang diderita satu tahun menimbulkan resiko anemi sebesar 1,4 kali pada responden yang sakit, keluhan sakit 1 bulan lalu memberi risiko 1,2 kali dan responden yang kurus mempunyai resiko menjadi anemi sebesar 1,4 kali.
Untuk analisis bivariat dengan variabel dependen IMT, variabel sosial ekonomi dan demografi diwakili oleh 4 variabel yaitu pendidikan, jenis kelamin, umur yang dikategorikan dan wilayah.
Dari 4 variabel ini umur remaja menengah (14 – 16 tahun) mempunyai resiko paling tinggi yaitu 4 kali menjadi kurus, selain itu juga tingkat pendidikan. Responden dengan tingkat pendidikan tidak sekolah mempunyai resiko 3 kali lebih besar untuk menjadi kurus dibanding responden dengan berpendidikan. Jumlah responden yang tidak berpendidikan sangat kecil (1,3%), karena itu dalam analisis multivariate dikelompokan dengan responden yang tingkat pendidikannya tidak sesuai umur. Sedangkan pada variabel dependen IMT dari 7 variabel gaya hidup didapat 2 variabel yang dapat menjadi kandidat yaitu, kebiasaan merokok dan kebiasaan minum minuman keras.
Pada orang yang merokok mempunyai risiko menjadi kurus 2 kali lebih besar dibanding yang tidak merokok. Pada variabel dependen IMT, didapat 2 variabel kandidat yaitu sakit satu bulan lalu dengan risiko kurus 1,3 kali dan pada penderita anemi risiko menjadi kurus 1,4 kali.
Dari 10 variabel kandidat pada regresi logistik ganda, dihasilkan model dengan 8 faktor determinan anemi yaitu pendidikan, jenis kelamin, wilayah, kebiasaan sarapan pagi, kecukupan energi, sakit yang diderita satu tahun, keluhan sakit satu bulan lalu dan kurus/IMT.
Setelah dilakukan interaksi dan konfounding ternyata didapatkan variabel yang masih sama. Model yang dipilih mempunyai signifikansi likelihood model sebesar 0,0000 yang berarti sangat erat hubungannya. Dari nilai persen klasifikasi benar, didapat nilai 74,5% yang berarti variabel-variabel tersebut dapat menduga risiko anemi sebesar 74,5% persis ketepatannya. Dari 8 variabel kandidat yang berhubungan secara bermakna dengan IMT, dilakukan analisis regresi logistik ganda lebih lanjut terpilih 5 variabel yaitu kebiasaan minum minuman keras, sakit 1 bulan lalu dan anemi serta jenis kelamin yang berinteraksi dengan umur dan keluhan sakit 1 bulan lalu. Model awal terpilih mempunyai signifikansi likelihood model sebesar 0,0000 yang berarti sangat erat hubungannya. Nilai persen klasifikasi benar 82,57%.
Kesimpulan : Hasil analisis Regresi Logistik Ganda dengan variabel dependen anemi didapat model awal dengan 8 faktor determinan anemi yaitu pendidikan, jenis kelamin, wilayah, kebiasaan sarapan pagi, kecukupan energi, sakit yang diderita satu tahun, keluhan sakit satu bulan lalu dan kurus/IMT. Sedangkan pada analisis Regresi Logistik Ganda dengan variabel dependen IMT didapat , model dengan 5 variabel yaitu kebiasaan minum minuman keras, sakit 1 bulan lalu dan anemi serta jenis kelamin yang berinteraksi dengan umur dan keluhan sakit 1 bulan lalu.
Standart kebutuhan gizi masa dewasa.
Jumlah kebutuhan energi seseorang pada dasarnya berbeda tergantung pada umur, jenis kelamin, berat badan, dan aktifitas seseorang. Sebagai contoh, seseorang laki-laki dewasa (20 – 59 tahun) dengan barat badan 62 kg, tinggi 165 cm dan aktifitas sedang membutuhkan energi kurang lebih 3000 kilo kalori, sedangkan bila wanita dewasa berat 54 kg tinggi 156 cm dengan aktifitas sedang membutuhkan 2250 kilo kalori. Apabila orang yang sama dengan aktifitas lebih berat, maka kebutuhan bagi laki-laki sebesar 3600 kilo kalori dan wanita 2600 kilo kalori.
Contoh Menu Dengan Energi 2500 kilo kalori, 2000 kilo kalori dan 1700 kilo kalori:
waktu
Jenis Hidangan
Ukuran Rumah Tangga Untuk
2500 kilokalori
2000 kilokalori
1700 kilokalori
Pagi
Nasi
2 sendok nasi
2 sendok nasi
1 sendok nasi
Daging bumbu semur
1 potong
1 potong
½ potong
Tumis kacang panjang + tauge
½ mangkok
½ mangkok
½ mangkok
Teh manis
1 gelas
1 gelas
1 gelas
10.00
Bubur kacang hijau
1 gelas
1 gelas
1 gelas
Siang
Nasi
3 sendok nasi
2 sendok nasi
1½ sendok nasi
Ikan goreng
1 potong
1 potong
1 potong
Tempe bacem
2 potong
1 potong
1 potong
Lalap
½ mangkok
½ mangkok
½ mangkok
Sayur asem
1 mangkok
1 mangkok
1 mangkok
Sambal tomat
1 sendok makan
1 sendok makan
1 sendok makan
Nenas
1 potong
1 potong
1 potong
16.00
Buah
-
-
1 potong
Malam
Nasi
3 sendok makan
2 sendok makan
1½ sendok makan
Pepes ayam
1 potong
1 potong
1 potong
Tahu balado
1 potong
1 potong
1 potong
Sayur bening bayam + jagung muda
1 mangkok
1 mangkok
1 angkok
Pepaya
1 potong
1 potong
1 potong
  1.  
    1.  
      1. Standart kebutuhan gizi untuk ibu hamil.
Proses kehamilan akan menigkatkan metabolisme energi hal ini disebabkan dalam kehamilanterjadi proses pertumbuhan bayi,dan proses penyesuaian fisiologik dan metebolisme selama kehamilan.Dalam masa kehamilan.,berat badan seorang ibu dapat bertambah sekitar 11-13 kg yang disebabkan oleh pembesaran janin (rata-rata 3,4 kg), jaringan plasenta (1,5 kg), uterus (0,4 kg), payudara (1,5 kg), volume darah (1,5 kg), air ketuban (2,9 kg), dan lain-lain. Peningkatan berat badan tersebut membutuhkan makanan yang bergizi, baik karbohodrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air.
Menurut informasi Vanderbit Maternal Nutrition Study bahwa kebutuhan gizi penting bagi ibu hamil adalah sebagai berikut:
Tabel kebutuhan gizi ibu hamil
Bahan gizi
Kebutuhan
Trisemester I
Trisemester II
Trisemester III
Kalori (karbohidrat, dan lemak)
2140 kalori
2200 kalori
2020 kalori
protein
75 g
75 g
70 g
kalsium
1,1 g
1,1 g
1,0 g
besi
13 g
14 g
13 g
Anemia defisiensi besi
Tidak terpenuhi bahan gizi penting tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada ibu hamil. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan gizi yang paling sering terjadi selama kehamilan. Anemia ini dapat dicegah dengan suplementasi besi. Jenis anemia lain dapat disebabkan dengan defisiensi asam folat dan vitamin B12.
Toksemia
Penyakit ini banyak diderita oleh ibu hamil dari golongtfan ekonomi rendah. Penyakit ini dicirikan dengan tekanan darah tinggi, protein mulia, dan kenaikan berat badan yang berlebihan karena retensi cairan. Pada penyakit ini semua organ tubuh terlibat termasuk hati, ginjal, otak, dan jantung. Ada pasien yang terken penyakit ginjal parah dan ada juga yang menderita penyakit otak. Jika penyakit-penyakit ini tidak ditanggulangi, dapat mengakibatkan koma, kejang,dan bahkan kematian. Penyakit ini dapat dicegah dengan menkonsumsi protein yang cukup.
Kehamilan beresiko tinggi
Pertumbuhan kerdil dalam kandungan dan bayi yang terlalu kecil sudah lama sebagai penyakit akibat kemiskinan. Selain bayi prematur yang lahir dalam usia kandungan lebih muda, dikenal juga bayi yang cukup umur tetapi tidak dapat cukup gizi dari plasenta. Bayi-bayi yang terlalui kecil ini (dibawah 2 kg bobot lahir) merupakan akibat nzat gizi yang kurang.
Diabetes mellitus
Jika konsumsi gula berlebihan, maka ibu hamil dapat menderita diabetes mellitus (penyakit kencing manis). Sebagian besar ibu hamil yang menderita diabetes akan sembuh dari penyakitnya, tetapi ada beberapa yang penyakitnya menjadi permanen.
Untuk menjamin keseshatan ibu hamil dan pertumbuhan atau perkembangan janin makan perlu asupan gizi yang cukup. Menurut anjuran makanan satu hari yang dikeluarkan oleh departemen kesehatan RI untuk ibu yang hamil membutuhkan 4 mangkok nasi (@ 200 g) atau padanannya, 2 ikan (50 g) atau padanannya, 4 tempe (@25 g) atau padanannya 3 mangkok sayur (100 g), dua iris buah pepaya (100 g) atau padanannya, dan segelas susu (@200 ml).
Standart kebutuhan gizi ibu menyusui
Menyusui anak sangat di anjurkan baik dari segi kesehatan maupu Agama. Islam sanagat menganjurkan agar ibu-ibu muslimah menyempurnakan susuanya selama dua tahun ,jika ingin menghentikan susuanya maka hendakalah ia bermusyawarah dengan suaminya untuk menentukan ibu susuanya untuk menentukan ibu susuan pengganti lainya.seseorang ibu yang menyusui memerlukan 2700-3000 kalori setiap harinya.cadangan lemak setiap hari akan mensuplai 200-300 kalori perhari.ibu yanh hamil harus banyak menkomsumsi sumber protein (daging ,keju, telur, dan susu) agar Asi berkualitas.Asi yang berkualitas dapat menyediakan asam amino bagi bayi.Asi merupakan makanan utama yang ideal untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologik bayi,merupakan satu-satunya jenis pangan atau cairan yang perlu diminum oleh anak manusia dalam waktu empat samapai dengan enam bulan pertama kehidupanya.Asi memiliki unsur-unsur seperti kalsium dan zat besi sehingga bayi yang di beri Asi hampir tidak mengalami Anemia .bayi yang di beri asi dapat bermanfaat terhadap pertumbuhan jaringan otaknya,dan tahan terhadap flu,brokitis ,pneumonia,diare karena Asi mengandung macropages yaitu zat penagkal peyakit seperti imunoglubilin,protein yang kaya vitamin B12 (asam folat),Asi juga mengandung antibodi ,butir-butir darah putih yang melindungi bayi.
Asam amino
Kebutuhan yang di anjurkan (mg/gprotein)
Kandungan dalam ASI
(mg/g protein)
Histidin
14
26
Isoliusin
35
46
Leusin
80
93
Metionin dan sistin
29
42
lisin
52
66
Finilananin dan tirosin
63
72
Ttreonin
44
43
Valin
47
55
Jumlah
364
443
Jika asupan ibu hamil kurang, maka ibu hamil dapat terserang peyakit kekurangan kalori protein (KKP) baik yang berupa marasmus dan khawisiokhor
Untuk menjamin kesehatan ibu menyusui dan pertumbuhan/ perkembangan bayi maka perlu asupan gizi yang cukup.menurut anjuran makanan satu hari yang Dikeluarkan oleh departemen Kesehatan RI untuk ibu yang menyusui membutuhkan 5 mangkok nasi (@ 200 g) atau padanannya , 2 ikan (50g) atau padananya tempe (@ 25 g) atau padanannya,3 mangkok sayur (100 g), dua irs buah pepaya (100 g) atau padanannya,dan segelas susu (200 ml.)
  1.  
    1.  
      1. Gizi bagi orang yang berpuasa
Dalam sebuah hadits yang siriwayatkan oleh Thabrani dari Abu Hurairah ,Rasulluloh SAW bersabdah:Shuumuu taskhikhuu (Berpuasalah,niscaya kamu sehat) Dri hadits ini kita bisa menagkap adanya satu kiat untuk sehat yaitu dengan berpuasa.puasa rhomadon yang disayariatkan melalui surat Al- Baqarah ayat 183 mempuyai hikmah yang luar biasa, baik hikmah dari dimensi ritual, mental spiritual,sosial, dan kesehatan serta hikmah dari dimensi-dimensi yang lainya. Hikmah puasa dari dimensi kesehatan merupakan hikmah yang selalu kita bisa rasakan jika kita mampu berpuasa sesuai yang di contohkan oleh Rasullulloh SAW. Berpuasa sesuai dengan tuntunan rasulluloh merupakan modal besar bagi di perolehanya hikmah puasa dari dimensi kesehatan. Anjuran meyegarakan berpuasa dengan makanan yang manis-manis, mengakhirkan waktu sahur, dan tidak lapar kecuali telah lapar dan akan berhenti makan sebelum kenyang merupakan anjuran dalam berpuasa yang sangat erat dengan hikmah puasa dari dimensi kesehatan.
Hikmah puasa dari dimensi kesehatan terkait erat dengan bahan gizi yang dikomsumsi dan kinerja metabolisme dalam tubuh seseorang menyegerakan dengan makanan yang manais-manis akan segera dapat menyediakan sumber glukosa drah yang akan di bongkar menjadi energi,sehingga tubuh kita akan segara buigar dan bertenaga kembali Hal ini akan mencegah timbulnya glukogenesis yaitu penyediaan glukosa darah untuk energi dari bahan selain karbonhidrat misalnya dari asam lemak atau protein.
Hikmah kesehatan dalam berpuasa tersebut di atas merupakan hikmah kesehatan fisik.Hikmah kesehatan mental juga merupakan hikmah kesehatan dalam berpuasa .Berpuasa di harapakan mampu menjadikan diri kita mempuyai stabilitas mental yang pari purna dan mampu menghilangkan peyakit iri, dengki, ria sombong,takabbur,dan lain sebagainya .Berpuasa identik dengan mengendalikan diri, termasuk mengendalikan diri dari munculnya peyakit hati.Dengan demikian dengan berpuasa kita berharap mendapatkan himah kesehatan, baik kesehatan fisik dan mental.
Perencanaan pemenuhan kecukupan gizi
Zat gizi sangat berperan dalam peningkatan sumberdaya manusia. Sayangnya, kita masih mengalami gizi kurang dan gizi buruk karena kurangnya asupan zat makanan bergizi. Selain itu, upaya pemerintah selalu ada, tapi terkadang setelah sampai di target, sasarannya menjadi kurang pas karena pemahaman masyarakat mengenai pemenuhan gizi masih minim. Ternyata, gizi yang baik dan berkualitas tak harus mahal.
Persoalan gizi seolah menjadi tema yang tak pernah kering dibahas karena menyangkut sumberdaya manusia. Sebenarnya masalah gizi apa yang kerap terjadi di masyarakat kita saat ini? Masalah gizi makro dan gizi mikro. Masalah makronya kurang kalori protein, sehingga marasmus dan kwasiorkor. Kadang tidak terdeteksi dan itu memberi dampak berat. Sedangkan masalah gizi mikro yang umum adalah anemia, kekurangan vitamin A, gondok, defisiensi zink dan selenium. Masalah gizi terjadi di Indonesia dan itu sudah ada tendensi termasuk di Sulsel. Yang paling banyak adalah defisiensi vitamin A, gondok, defisiensi yodium dan anemia.
Perencanaan pemenuhan kebutuhan gizi (kecukupan kalori dan protein )dapat dilakukan melaui 7 langkah utama,yaitu sebagai berikut:
  1. Menentukan kebutuhan energi
pada umumnya perhitungan energi orang dewasa menggunakan teori BMR.Dengan demikian di hitung dulu basal metabolismenya dengan cara-cara yang di uraikan dimuka atau memakai cara menghitung yang praktis meskipun kasar,yaitu:
BMR = 1kalori /kg berat badan /jam
Setelah ditemukan,kemudian hitung energi yang digunakan untuk melakukan pekerjaan yang eksternal (kesehatan fisik ),dan keadaan fisiologis tertentu (misalnya dalam keadaan pregenansi dan laktasi) .Makanan merupakan campuran dari ketiga zat sumber sumber energi dengan proporsi yang berbeda -beda.mnaka pengaruh dari campuran tersebut juga berbeda berkisar antara 6-30 % praktisnya bisa di ambil saja rata-rata 10 % .penentuan kebutuhan energi (kalori) juga dapat menggunakan berbagai tabel kebutuhan enrgi (kalori) berdasarkan umur dan jenis kelamin serta Aktivitas yang di lakukanya.
  1. Menentukan kebutuhan protein untuk menentukan kebutuhan protein dapat dilakukan melalui tabel.
  2. Memperhatikan zat gizi bahan pangan yang ingindi gunakan yaitu memperhatikan bahan yang akan dimakan .Hal ini untuk mengetahui kandungan kalori, karbonhidrat ,lemak ,protein ,dan air.Untuk kepentingan ini dapat menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) yang dikeluarkan oleh departemen kesehatan RI .Dalam menggunakan daftar komposisi Bahan Makanan perlu di perhatikan bydd(berat yang dapat dimakan). Pemilihan menu harus disesuaikan dengan pola makan yang bersangkutan ,seperti kebiasaan memakan nasi dengan jumlah tertentu,adnya buah dan sayur pantangan, adanya buah dan sayur kesukaan,dan juga kebiasaan minum susu.
4. Upaya pemenuhan menu empat sehat 5 sempurna .
  1. Menggunakan ratio Karbonhidrat : lemak, protein dengan perbandingan :
Karbonhidarat: Lemak: Protein
50 20 30
6. Menggunakan prinsip halalan dan thoyiban
Makanan yang di halalkan untuk umat islam dapat di kaji dalam AL-quran dan AL Hadits ,sedangkan konsepsi thoyiban tidak saja menyangkut baik dalam hal cara memperolehnya,tetapi juga baik, bahwa makanan tersebut harus mampu mendukung pertumbuhan, perkembangan ,dan kesehatan.Thoyiban juga mempuyai makna makanan tersebut di sukai konsumen dan diterima secvara antropologis yang berbasi budaya dan tradisi lokal. Makanan yang thoyyiban juga punya makna, makanan tersebut idak mengandung toksikan nabati, bahan anti gizi, cemaran mokro organisme, dan cemaran bahan kimia beracun dan berbahaya.
Dalam bomb kalori meter oksidasi 1 gram karbohidrat menghasilkan 4,1 kalori, 1 gram lemak 9,45 kalori dan 1 gram mprotein 5,56 kalori. Didalam tubuh keadaannya berlainan, baik karbohidrat, lemak maupun protein tidak seluruhnya dapat terbakar, karena adanya kehilangan-kehilangan dalam proses pencernaan dan ekskresi. Karena itu oleh Atwater dan Bryant disarankan agar supaya dilakukan reduksi sebanyak 2 %untuk karbohidrat, 5 % untuk lemak dan 29,2 % untuk protein. Sehingga setelah dihitung dengan pembulatan-pembulatan diperoleh angka sebagai berikut:
1 gram karbohidrat 4 kalori
1 gram lemak 9 kalori
1 gram protein 4 kalori
7. Konversikan kebutuhan kalori dan protein pada kelima bahan makanaan dan hitung kembali kesesuaiannya. Contoh:
Tabel rencana pemenuhan gizi
Jenis bahan pangan
kalori
K
L
P
300 gr beras giling
100
226,7
2,1
20,4
100 gr daging kambing
154
0
0,2
16,6
100 gr tahu
68
1,6
4,6
7,8
100 gr selada air
11,73
2,07
0,207
1,173
150 gr jeruk manis
48,6
12,096
0,216
0,54
500 gr susu kental
1680
275
5,0
41
total
3042,23
527,466
66,323
87,513

C.         
BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Bagi makhluk hidup tidak terkecuali, makanan yang bergizi sangat penting bagi kesehatannya. Makanan dapat menyebabkan kita sehat, makanan juga dapat menyeababkan kita sakit, tetapi dengan makanan pula kita dapat menyembuhkan penyakit. Dalam konteks islam sebagai agama samawi yang membawa misi rahmatan lilalamin sangat memperhatikan makanan pemeluknya. Ajaran manusia harus makan dapat kita jumpai pada surat al-anbiya ayat 8, Al A’raaf: 19, Al Baqarah: 35, Yasin: 33, 57, dan lain sebagainya. Sedangkan anjuran makan makanan yang halan dan thoyyibah, kita jumpai dalam beberapa ayat diantaranya adalah Al Baqarah: 168, Al Maidah;88, dan An Nahl:144. Makna thoyyiban tidak saja menyangkut bahwa makanan tersebut adalah baik dari segi cara memperolehnya, tetapi punya makna dapat mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan yang memakannya.
2. Standart kecukupan gizi secara ukuran dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu:
  • Ukuran makro, yaitu kecukupan kalori (energi) dan kecukupan protein.
  • Ukuran mikro, yaitu kecukupan vitamin dan mineral.
3. Kebutuhan kalori (energi) perhari
  • Orang kurus BB x 40-60 kalori
  • Orang normal BB x 30 kalori
  • Orang gemuk BB x 20 kalori
  • Orang Obesitas BB x (10 x15) kalori
4. Standart kecukupan gizi untuk BALITA
Untuk menjamin pertumbuhan,perkembangan,dan kesehatan BALITA,maka perlu asupan gizi yang cukup.Menurut anjuran makanan satu hari yang dikeluarkan Departemen Kesehatan RI untuk anak usia1-3 tahun membutuhkan 1,5 mangkok nasi (@ 200g) atau padananya,0,5 ikan (50g) atau padananya,2 tempe (@ 25 g) atau padanannya, semangkok sayur (1000g),seiris buah pepaya (100 g) atau padanannya,dan segelas susu (200 ml) Bagi anak usia 4-6 tahun membutuhkan 2 mangkok nasi (@200g) atau padanannya,1 ikan (50 kg) atau padananya 3 tempe (@25g) atau padanannya ,i,5 mangkok sayur (100 g) ,2 iris buah pepaya(@100g) atau padanannya, dan segelas susu (200 ml).Asupan gizi tersebut akan menjamin tercukupinya kebutuhan kalori untuk BALITA antara 1360-1830 kalori/anak /hari dan kebutuhan protein untuk BALITA antara 16-20 g/anak /hari.
5. Menurut informasi Vanderbit Maternal Nutrition Study bahwa kebutuhan gizi penting bagi ibu hamil adalah sebagai berikut:
Tabel kebutuhan gizi ibu hamil
Bahan gizi
Kebutuhan
Trisemester I
Trisemester II
Trisemester III
Kalori (karbohidrat, dan lemak)
2140 kalori
2200 kalori
2020 kalori
protein
75 g
75 g
70 g
kalsium
1,1 g
1,1 g
1,0 g
besi
13 g
14 g
13 g
6. Standart kebutuhan gizi bagi ibu menyusui
Untuk menjamin kesehatan ibu menyusui dan pertumbuhan/ perkembangan bayi maka perlu asupan gizi yang cukup.menurut anjuran makanan satu hari yang Dikeluarkan oleh departemen Kesehatan RI untuk ibu yang menyusui membutuhkan 5 mangkok nasi (@ 200 g) atau padanannya , 2 ikan (50g) atau padananya tempe (@ 25 g) atau padanannya,3 mangkok sayur (100 g), dua irs buah pepaya (100 g) atau padanannya,dan segelas susu (200 ml.)
7. Sehat bagi orang yang berpuasa.
Hikmah puasa dari dimensi kesehatan merupakan hikmah yang selalu kita bisa rasakan jika kita mampu berpuasa sesuai yang di contohkan oleh Rasullulloh SAW. Berpuasa sesuai dengan tuntunan rasulluloh merupakan modal besar bagi di perolehanya hikmah puasa dari dimensi kesehatan. Anjuran meyegarakan berpuasa dengan makanan yang manis-manis, mengakhirkan waktu sahur, dan tidak lapar kecuali telah lapar dan akan berhenti makan sebelum kenyang merupakan anjuran dalam berpuasa yang sangat erat dengan hikmah puasa dari dimensi kesehatan.
8. Perencanaan pemenuhan kebutuhan gizi (kecukupan kalori dan protein )dapat dilakukan melaui 7 langkah utama,yaitu sebagai berikut:
  • Menentukan kebutuhan energi
  • Menentukan kebutuhan protein
  • memperhatikan zat gizi bahan pangan yang ingin di gunakan yaitu memperhatikan bahan yang akan dimakan .
  • Upaya pemenuhan menu empat sehat 5 sempurna .
  • Menggunakan ratio Karbonhidrat : lemak, protein dengan perbandingan :
Karbonhidarat: Lemak: Protein
50 20 30
  • Menggunakan prinsip halalan dan thoyiban
  • konversikan kebutuhan kalori dan protein pada kelima bahan makanaan dan hitung kembali kesesuaiannya.
B.        Saran
ddig-presentation
Kami tahu bahwa didakam penulisan didalam makalah ini masih banyak terjadi kesalahan-kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca yang mambangun sangat kami harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Krisno, agus, DR. Dasar-dasar ilmu gizi. UMM PRESS. Malang