Jumat, 04 Mei 2012

MAKALAH GIZI CAIRAN DALAM TUBUH DAN MINERAL


MAKALAH GIZI
CAIRAN DALAM TUBUH DAN MINERAL
Description: 36651_102640366454105_100001244260301_13753_4745745_n.jpg




           


DISUSUN OLEH:
WIDHIA LESTARI                         P17424311097


REGULER B TINGKAT I
PRODI DIII KEBIDANAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2011 / 2011

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas  limpahan rahmat, karunia dan hidayahNya-lah kami dapat menyelesaikan makalah berjudul  “Cairan dalam Tubuh dan Mineral”. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Gizi dalam Kesehatan reproduksi yang diampu oleh Bp. Ir. Endo Djarjito, MPPM
Penulisan makalah ini dapat terselesaikan atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bp. Ir. Endo Djarjito, MPPM selaku dosen pengampu mata kuliah Gizi dalam Kesehatan Reproduksi DIII Kebidanan Purwokerto.
2.  Kedua orang tua penulis
3. Teman-teman prodi D III Kebidanan Purwokerto Poltekkes Kemenkes Semarang.
4. Seluruh pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah.

             Kritik dan saran penulis harapkan demi penyempurnaan makalah-makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca dan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

                                                                                    Purwokerto,  Maret 2012

                                                                                                            Penulis


DAFTAR ISI
......... HALAMAN JUDUL…….....................................................................       i
......... KATA PENGANTAR...........................................................................      ii
DAFTAR ISI..........................................................................................     iii
BAB I   PENDAHULUAN........................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Tujuan Penulisan ............................................................................. 1
BAB II  PEMBAHASAN.......................................................................... 2
A.    Air dan Cairan Tubuh..................................................................... 2
B.     Distribusi Cairan Tubuh.................................................................. 2
C.     Fungsi Air....................................................................................... 3
D.    Keseimbangan Air.......................................................................... 4
E.     Kebutuhan Air................................................................................ 4
F.      Keseimbangan Cairan dan Elektrolit.............................................. 5
G.    Pengaturan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit........................... 6
H.    Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit...................................... 6
I.       Keseimbangan Asam dan Basa....................................................... 6
J.       Mineral............................................................................................ 7
K.    Sumber Mineral............................................................................... 9
L.     Keracunan Karena Mineral............................................................. 9
BAB III  PENUTUP................................................................................... 39
A.  Kesimpulan...................................................................................... 39
B.  Saran ............................................................................................... 39
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………..     40

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Cairan tubuh berkaitan erat dengan mineral yang larut di dalamnya. Semua proses kehidupan berlangsung di dalam cairan tubuh yang mengandung mineral. Pengaturan konsumsi air sangat diperlukan, konsumsi air diatur oleh rasa haus dan kenyang yang terjadi melalui perubahan yang dilakukan oleh mulut, hipotalamus dan perut. Walaupun rasa haus mengatur konsumsi air, dalam keadaan kehilangan air yang terjadi secara cepat, makanisme ini  sering tidak dapat pada waktunya mengganti air yang di perlukan.
Selain itu juga tubuh melakukan mekanisme pengaturan pengeluaran air yang di atur oleh ginjal dan otak. Mekanisme ini tidak berjalan apabila seseorang tidak minum air dalan jumlah cukup. Selain air, mineral berperan dalam berbagai tahap metabolisme, terutama sebagai kofaktor dalam aktivitas enzim-enzim.

B.     TUJUAN PENULISAN

a.       Tujuan Umum
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang cairan tubuh dan mineral yang diperlukan oleh tubuh, manfaat yang diberikan serta sistem pengeturan didalam tubuh

b.      Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Gizi dalam Kesehatan Reproduksi tentang cairan tubuh dan mineral.








BAB II
ISI

A.    Air dan Cairan Tubuh

Tubuh dapat bertahan selama berminggu – minggu tanpa makanan, tapi hanya beberapa hari tanpa air. Air atau cairan tubuh merupakan bagian utama tubuh, yaitu 55 – 60% dari berat badan orang dewasa atau 70% dari bagian tubuh tanpa-lemak (lean body mass). Angka ini lebih besar untuk anak – anak. Pada proses menua manusia kehilangan air. Kandungan air bayi pada waktu lahir adalah 75% berat badan, sedangkan pada usia tua menjadi 50%. Kehilangan ini sebagian besar berupa kehilangan cairan ekstraselular. Kandungan air tubuh relative berbeda antarmanusia, bergantung pada proporsi jaringan otot dan jaringan lemak. Tubuh yang mengandung relative lebih banyak otot mengandung lebih banyak air, sehingga kandungan air atlet lebih banyak daripada nonatlet, kandungan air pada laki – laki lebih banyak daripada perempuan, dan kandungan air pada anak muda lebih banyak daripada orang tua. Sel – sel yang aktif secara metabolic, seperti sel – sel otot dan visera (alat – alat yang terdapat dalam rongga badan, seperti paru – paru, jantung dan jeroan)  mempunyai konsentrasi air paling tinggi, sedangkan sel – sel jaringan tulang dan gigi paling rendah.

B.     Distribusi Cairan Tubuh

Cairan tubuh merupakan media semua reaksi kimia di dalam sel. Tiap sel mengandung cairan intraseluler (cairan di dalam sel) yang komposisinya paling cocok untuk sel tersebut dan berada didalam cairan ekstraseluler (cairan di luar sel) yang cocok pula. Cairan ekstraseluler terdiri atas cairan interstial atau interselular (sebagian besar) yang terdapat di sela – sela sel dan cairan intravascular berupa plasma darah. Semua cairan tubuh setiap waktu kehilangan dan mengalami penggantian bagian – bagiannya, namun komposisi cairan dalam tiap kompartemen dipertahankan agar selalu berada dalam keadaan homeostatis/tetap. Keseimbangan cairan di setiap komparetemen menentukan volume dan tekanan darah.
Cairan tubuh total
45 1
Ekstraselular
15 1
Intraselular
30 1
Darah/ intervaskular
3 1
Na:K = 28:1
Interselular/ interestial
12 1
Na:K = 28:1
Na:K = 1:10





Seseorang yang mempunyai berat badan 70kg mengandung kurang lebih 45 liter air, 30 liter diantaranya merupakan cairang intraseluler dan 15 liter cairan ekstraseluler. Seperlima dari cairan ekstraseluler (3 liter) adalah cairan intravascular dan selebihnya (12 liter) cairan interseluler (termasuk cairan serebrospinal, sekresi saluran cerna, cairan dalam mata dan telinga).
  
C.     Fungsi Air

Air memiliki baerbagai fungsi dalam proses vital tubuh.

1.      Pelarut dan alat angkut. Air di dalam tubuh berfungsi sebagai pelarut zat-zat gizi berupa monosakarida, asam amino, lemak, protein, vitamin dan mineral serta bahan-bahan lain yang diperlukan tubuh seperti oksigen dan hormone-hormon. Zat-zat gizi dan hormone ini dibawa ke seluruh sel yang membutuhkan. Disamping itu, air sebagai pelarut mengangkut sisa-sisa metabolisme, termasuk karbondioksida dan ureum untuk dikeluarkan dari tubuh melalui paru-paru, kulit dan ginjal.
2.      Katalisator. Air berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologic dalam sel, termasuk di dalam saluran cerna. Air diperlukan pula untuk memecah dan menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk lebih sederhana.
3.      Pelumas. Air berperan sebagai pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh.
4.      Fasilisator pertumbuhan. Air sebagai bagian jaringan tubuh diperlukan untuk pertumbuhan. Dalam hal ini air berperan sebagai zat pembangun.
5.      Pengatur suhu. Karena kemampuan air untuk menyalurkan panas, air memegang peranan dalam mendistribusikan panas dalam tubuh. Sebagian panas yang dihasilkan dari metabolisme energy diperlukan untuk mempertahankan  suhu tubuh pada 37oC. Suhu ini paling cocok untuk bekerjanya enzim-enzim didalam tubuh. Kelebihan panas yang diperoleh dari metabolisme energi perlu segera disalurkan keluar. Sebagian besar pengeluaran kelebihan panas ini dilakukan melalui penguapan air dari permukaan tubuh. Kehilangan panas melalui kulit merupakan 25% dari pengeluaran energy basal. Kehilangan air yang terjadi sebanyak 350-700 ml/hari pada suhu dan kelembaban lingkungan normal dinamakan kehilangan air insensible atau secara tidak sadar. Lemak dibawah kulit berperan sebagai bahan isolasi yang mengurangi kecepatan panas hilang dari tubuh.
6.      Peredam benturan. Air dalam mata, jaringan saraf tulang belakang, dan dalam kantung ketuban melindungi organ-organ tubuh dari benturan.

D.    Keseimbangan Air

Keseimbangan cairan tubuh adalah keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dan keluar tubuh. Melalui mekanisme keseimbangan, tubuh berusaha agar cairan di dalam tubuhsetiap waktu berada di dalam jumlah yang tetap atau konstan. Ketidakseimbangan terjadi pada dehidrasi (kelebihan  air secara berlebihan) dan intoksikasi air (kelebihan air). Konsumsi air terdiri atas air yang diminum dan yang diperoleh dari makanan, serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme. Air yang keluar dari tubuh termasuk yang dikeluarkan sebagai urine, air di dalam feses, dan air yang dikeluarkan melalui kulitdan paru-paru.

Keseimbangan Air
Masukan Air
Jumlah (ml)
Ekskresi/Keluaran air
Jumlah (ml)

Cairan                          550 - 1500
Makanan                      700 - 1000
Air metabolic               200 - 300


                                    1450 – 2800


Ginjal                              500 - 1400
Kulit                                450 - 900
Paru-paru                                  350
Feses                                         150


                                       1450 – 2800

Dari table diatas dapat dilihat bahwa volume yang diperoleh dari minuman hampir sama dengan volume urine, dan bahwa jumlahnya hanya merupakan separuh dari jumlah masukan dan keluaranair secara keseluruhan.

E.     Kebutuhan Air

Kebutuhan air sehari dinyatakan sebegai proporsi terhadap jumlah energy yang dikeluarkan tubuh dealam keadaan lingkungan rata-rata. Untuk orang dewasa diperlukan sebanyak 1,0 – 1,5 ml/kkal, sedangkan untuk bayi 1,5 ml/kkal.
             
Bila konsentrasi garam naik:
Rangsangan terhadap kelenjar pituitari
                      Ginjal                                                                 Otak
Bila aliran darah berkurang:
Ginjal mengeluarkan enzim renin





                                   
                                    Renin
Renin mengubah angiotensinogen menjadi bentuk aktif angiotensin
Kelenjar pituitari melepas hormon antidiuretika/ADH
          Darah                                                        Kelenjar Pituitari



       Angiotensin
                                                                                            ADH
Kelenjar adrenal mengeluarkan aldosteron
Pembuluh darah mengkerut, meningkatkan tekanan darah
Kelenjar Adrenal         Pembuluh Darah



Ginjal menahan atrium dan air, dengan demikian meningkatkan tekanan darah
            Aldosteron

Disamping sumber air yang nyata berupa air dan minuman lain, hamper semua makanan mengandung air. Sebagian besar buah dan sayuran mengandung sampai 95% air, sedangkan daging, ayam dan ikan sampai 70-80%. Air juga dihasilkan didalam tubuh sebagai hasil metabolism energi.
F.      Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Tubuh harus mampu memelihara konsentrasi semua elektrolit yang sesuai di dalam cairan tubuh, sehingga tercapai keseimbangan cairan dan elektrolit. Pengaturan ini penting bagi kehidupan sel, karena sel harus secara terus–menerus berada di dalam cairan dengan komposisi yang benar, baik cairan didalam maupun diluar sel. Mineral makro terdapat dalam bentuk ikatan garam yang larut dalam cairan tubuh. Sel-sel tubuh mengatur kemana garam harus bergerak dengan demikian menetapkan kemana cairan tubuh harus mengalir, karena cairan mengikuti garam. Kecenderungan air mengikuti garam dinamakan osmosis.

G.    Pengaturan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit

Membrane sel mengandung alat transport berupa protein yang mengatur penyebrangan ion positif dan bahan lain melalui membrane sel tersebut. Ion negatif akan mengikuti ion positif dan air akan mengalir ke arah cairan yang lebih tinggi konsentrasinya. Salah satu contoh alat transport ini adalah pompa natrium-kalium, suatu enzim yang memompa natrium keluar lebih cepat daripada proses difusi biasa. Pada waktu yang sama, kalium akan di pompa ke dalam sel. Pompa ini secara aktif mempertukarkan natrium dengan kalium melalui membrane sel, dngan demikian mempertahankan tingkat konsentrasi masing-masing elektrolit. Pompa ini menggunakan ATP sebagai sumber energy dan enzim natrium-kalium ATP-ase guna melepas energy dari ATP.

H.    Ketidakseimbangan Cairan dan Elekrolit

Secara normal,tubuh mampu mempertahankan diri dari ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Namun, ada kalanya tubuh tidak mampu mengatasinya. Ini terjadi bila keseimbangan terjadi Dalam jumlahan banyak sekaligus, seperti pada muntah-muntah,diare,berkeringat luar biasa,terbakar,luka/perdarahan,dan sebagainya. Dalam keadaan ini elektrolit pertama yang hilang adalah natrium dan klorida, karena keduanya merupakan elektrolit ekstraselular utama dalam tubuh. Biasanya perlu segera diberikan cairan elektrolit. Cairan elektrolit yang paling sederhana dan dikenal masyarakat adalah oralit atau larutan gula garam(LGG). Bila terjdi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit perlu segera dilakukan tindakan medis khusus.

I.       Keseimbangan Asam dan Basa

Disamping untuk mengatur keseimbangan cairan elektrolit,ion juga digunakan tubuh untuk mengatur tingkat keasaman/pH cairan tbuh.pH normal untuk berbagi cairan tubuh adalah sebagai berikut:
·         darah             :   7,35-7,45                             
·         pancreas        :   8,00
·         lambung        : <2,00
·         urin                :   6,00

1.             Pengaturan oleh Sistem Buffer

Beberapa jenis elektrolit dan protein dalam cairan tubuh bertindak sebagai buffer dalam melindungi tubuh teerhadap kemungkinan perubahan dalam pH dengan cara menetralisasi asam atau basa bersangkutan. System buffer tubuh merupakan lini pertahanan pertama terhadap perubahan keseimbangan asam-basa cairan tubuh.

2.             Pengaturan melalui system Ekskresi

Sistem lain yang melindungi tubuh terhadap perubahan pH adalah paru-paru,kulit dan ginjal. Bila terlalu banyak asam menumpuk di dalam tubuh berupa asam karbonat, kecepatan pernafasan akan meningkat dan karbon dioksida akan lebih banyak dikeluarkan. Bila basa yang menumpuk pernafasan akan diperlambat, karbon doksid akan ditahan lebih banyan di dalam tubuh yang kemudian membentuk lebih banyak asam karbonat. Kulit akan mengeluarkan lebih banyak keringat asam, dan saluran air mat akan mengubah komposisi air mata.
Ginjal merupakan alat pengstur keseimbangan asam basa utama dalam system ekskresi. Dalam hal ini ginjal akan memilih ion yang harus dikeluarkan dan yang harus dipertahankan di dalam tubuh. Makanan m empengaruhi pH urin. Makanan yang menghasilkan abu asam cenderung menghasilkan urin yang lebih asam. Klor,sulfur,dan fosfor dalam larutan air membentuk asam, oleh karena itu menghasilkan urin yang bersifat asam. Unsur-unsur yang membentuk asam ini terutama terutama terdapat dalam bahan makanan sumber protein seperti daging,ayam,ikan dan telur serda dalam serealia utuh. Sebaliknya, makanan yang menghasilkan abu basa cenderung mengurangi tingkat keasaman urin. Unsur mineral yang bersifat basa dalam larutan adalah kalsium, natrium dan magnesium. Unsur-unsur ini terutama terdapat dalam kacang-kacangan, sayuran dan buah.

J.       Mineral

Mineral merupakan bagian dari tubuh dan memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel jaringan, organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. Kalsium, fosfor dan magnesium adalah bagian dari tulang, besi dari hemoglobin dalam sel darah merah, dan iodium berasal dari hormone tiroksin. Disamping itu mineral berperan dalam berbagai tahap metabolisme, terutama sebagai kofaktor dalam aktifitas enzim-enzim. Keseimbangan ion-ion mineral di dalam cairan tubuh diperlukan untuk pengaturan pekerjaan enzim-enzim, pemeliharaan keseimbangan asam-basa, membantu transef-transfer ikatan penting melalui membrane sel dan pemeliharaan kepekaan otot dan syaraf terhadap rangsangan. Mineral digolongkan ke dalam mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro  adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg sehari, sedangkan mineral mikro dibutuhkan kurang dari 100 mg sehari. Jumlah kecil mikro dalam tubuh kurang dari 15 mg hingga saat ini dikenal sebanyak 24 mineral yang dianggap esensial. Jumlah itu setiap waktu bisa berubah.

1.             Ketersediaan Biologik Mineral

Walaupun bahan makanan mengandung berbagai mineral untuk kepeerluan tubuh, namun tidak semuanya dapat dimanfaatkan. Hal ini bergantung pada ketersediaan biologiknya (ketersediaan biologic adalah tingkatan zat gizi yang dimakan yang dapat diabsorpsi oleh tubuh). Sebagian zat gizi mungkin tidak mudah dilepaskan saat makanan dicerna atau tidak diabsorpsi dengan baik.

2.             Interaksi Mineral dengan Mineral

Mineral yang mempunyai berat molekul dan jumlah muatan (valensi) yang sama bersaing satu sama lain untuk diabsorpsi, dengan demikian dalam ketersedian biologiknya. Contohnya magnesium, kalsium, besi dan tembaga yang mempunyai valensi +2. Kalsium yang dimakan terlalu banyak akan menghambat absorpsi besi. Demikian pula kebanyakan makan seng akan akan menghambat absorpsi tembaga. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menggunakan suplemen mineral tanpa berkonsultasi dengan dokter.

3.             Interaksi Vitamin dengan Mineral

Vitamin C meningkatkan absorpsi besi bila dimakan pada waktu bersamaan. Vitamin D kalsiterol meningkatkan absorpsi kalsium. Banyak vitamin membutuhkan mineral untuk melakukan peranannya dalam metabolisme. Misalnya, koenzim tiamin membutuhkan magnesium untuk berfungsi secara efisien.

4.             Interaksi Serat dengan Mineral

Ketersediaan biologic mineral banyak dipengaruhi oleh bahan-bahan non mineral di dalam makanan. Asam fitat dalam serat kacang-kacaangan dan serealia dan asam oksalat dalam bayam mengikat mineral-mineral tertentu sehingga tidak dapat diabsorpsi. Makanan tinggi serat (lebih dari 35 gram sehari) menghambat absorpsi kalsium, zat besi, seng dan magnesium.
K.    Sumber Mineral

Sumber paling baik mineral adalah makanan hewani, kecuali magnesium yang lebih banyak terdapat di dalam makanan nabati. Hewan memperoleh mineral dari tumbuh-tumbuhan dan menumpuknya di dalam jaringan tubuhnya. Di samping itu, mineral berasal dari makanan hewani mempunyai ketersediaan biologi lebih tinggi dari pada yang berasal dari makanan nabati. Makanan hewani mengandung lebih sedikit bahan pengikat mineral dari pada makanan nabati.

L.     Keracunan karena Mineral

Mineral dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan keracunan (toksik). Pekerja tambang bila tidak berhati-hati dapat mengalami keracunan mineral, terutama mangan. Sifat toksik ini perlu mendapat perhatian dalam penggunaan suplemen.

1.             Mineral Makro
Yang termasuk mineral makro antara lain:
a.   Natrium (Na)
Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraselular. 35-40% natrium ada di dalam kerangka tubuh. Cairan salurann cerna,seperti cairan empedu dan pancreas, mengandung banyak natrium. Sumber utama adalah garam dapur atau NaCl. Garam dapur di dalam makanan sehari-hari berperan sebagai bumbu dan sebagai bahan pengawet.
·         Absorpsi dan Metabolisme Natrium
Hampir seluruh natrium yang dikonsumsi (3 hingga 7 gram sehari) di absorpsi, terutama di usus halus. Natrium yang di absorpsi di bawa oleh aliran darah ke ginjal. Kelebihan natrium yang jumlahnya mencapai 90-99% dari yang di konsumsi, dikeluarkan melalui urine. Pengeluaran natrium ini diatur oleh hormon aldosteron, yang dikeluarkan kelenjar adrenal bila kadar natrium darah menurun. Aldosteron merangsang ginjal untuk mengabsorpsi kembali natrium.
·         Fungsi Natrium
Sebagai kation utama dalam cairan ekstraselular, natrium menjaga keseimbangan cairan dalam kompartemen tersebut. Natrium lah yang sebagian besar mengatur tekanan osmosis yang menjaga cairan tidak keluar dari darah dan masuk ke dalam sel-sel. Secara normal tubuh dapat menjaga keseimbangan antara nattrium di luar sel dan kalium di dalam sel. Bila jumlah natrium di dalam sel meningkat secara berlebihan, air akan masuk ke dalam sel, akibatnya sel akan membengkak. Inilah yang menyababkan terjadinya pembengkakan atau edema dalam jaringan tubuh. Keseimbangan cairan juga akan terganggu bila seseorang kehilangan natrium. Air akan memasuki sel untuk mengencerkan natrium dalam sel. Cairan ektraselular akan menurun. Perubahan ini dapat menurunkan tekanan darah.
Natrium menjaga keseimbangan asam basa didalam tubuh dengan mengimbangi zat-zat yang membentuk asam. Natrium berperan dalam tranmisi syaraf dan kontraksi otot. Natrium berperan pula dalam absorpsi glukosa dan sebagai alat angkut zat-zat gizi lain melalui membran, terutama melalui dinding usus sebagai pompa natrium.
·         Perkiraan Kebutuhan Natrium
Taksiran kebutuhan natrium sehari untuk orang dewasa adalah sebanyak 500 mg. Kebutuhan anatrium di dasarkan pada kebutuhan untuk pertumbuhan, kehilangan natrium melalui keringat dan sekresi lain.
·         Sumber Natrium
Sumber natrium adalah garam dapur, mono sodium glutamate (MSG), kecap dan makanan yang diawetkan dengan garam dapur.
·         Akibat Kekurangan Natrium
Kekurangan matrium menyebabkan kejang,apatis,dan kehilangan nafsu makan. Kekurangan natrium dapat terjadi sesudah muntah, diare, keringat berlebihan dan bila menjalankan diet yang sangat terbatas dalam natrium. Bila kadar natrium darah turun, perlu diberikan natrium dan air untuk mengembalikan keseimbangan.
·         Akibat kelebihan natrium
Kelebihan natrium dapat menimbulkan keracunan yang dalam keadaan akut menyebabkan edema dan hipertensi. Hal ini dapat diatasi dengan banyak minum. Kelebihan konsumsi natrium secara terus-menerus terutama dalam bentuk garam dapur dapat menimbulkan hipertensi.
b.      Klor (Cl)
Klor merupakan anion utama cairan ekstraselular. Klor merupakan 0,15% berat badan. Konsentrasi klor tertinggi adalah dalam cairan serebrospinal (otak dan sumsum tulang belakang), lambung dan pancreas. Bila bereaksi dngan natrium atau hydrogen, klor akan membentuk ion klor yang bermuatan negative (Cl-).
·         Absorpsi dan ekskresi Klor
Klor hampir seluruhnya diabsorpsi di dalam usus halus dan diekskresi melalui urin dan keringat. Kehilangan klor mengikuti kehilangan natrium. Kebanyakan keringat dihalangi oleh aldosteron yang secara langsung berpengaruh terhadap kelenjar keringat.
·         Fungsi klor
Klor berperan dalam memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit. Klor akan bergerak secara bebas melintasi memban sel dan berasosiasi dengan natrium atau kalium.
·         Perkiraan keebutuhan klor
Kebutuhan  minimum klor per ahri ditaksir sebanyak 750 mg.
·         Sumber Klor
Sebagian besar klor diperoleh dari makanan olahan yang diberi garam dapur. Beberapa sayuran dan buah-buahan merupakan sumber klor.
c.       Kalium (K)
Seperti halnya natrium, kalium merupakan ion bermuatan positive, akan tetapi berbeda dengan natrium, kalium terutama terdapat di dalam sel. Perbandingan natrium dengan kalium didalam cairan intreselular adalah 1:10 , sedangkan di dalam cairan ekstraselular 28:1. Sebanyak 95% kalium tubuh berada didalam cairan intraselular.
·         Absorpsi dan ekskreesi Kalium
Kalium di absorpsi dengan mudah dalam usus halus. sebanyak 80-90% kalium yang dimakan diekskesi melalui urin, selebihnya dikeluarkan melalui feses dan sedikit melalui keringat dan cairan lambung.
·         Fungsi Kalium
Di dalam sel kalium berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologic, terutama dalam metabolisme energy dan sintesis glikogen dan protein.
·         Perkiraan kebutuhan kalium
Kebutuhan minimum akan kalium ditaksir sebanyak 2000 mg sehari.



·         Sumber Kalium
Kalium terdapat di dalam semua makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Sumber utama adalah makanan mentah/segar, terutama buah, sayuran, dan kacang-kacangan.
·         Akibat kekurangan kalium
Kekurangan kalium dapat terjadi karena kebanyakan kehilangan melalui saluran cerna atau ginjal.
·         Akibat kelebihan kalium
Kelebihan kalium akut dapat terjadi bila konsumsi melalui saluran cerna atau tidak melalui saluran cerna melebihi 12,0 g/m2 permukaan tubuh sehari (18 g untuk orang dewasa) tanpa diimbangi oleh kenaikan ekskresi.
d.      Kalsium (Ca)
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapata dalam tubuh, yaitu 1,5-2% dari berat badan orang dewasa atau kurang lebih sebanyak 1 kg. Kalsium mengatur pekerjaan hormon-hormon dan factor pertumbuhan.
·         Absorpsi dan ekskresi kalsium
Kemampuan absorpsi pada laki-laki lebih tinggi dari pada perempuan pada semua golongan usia. Absorpsi kalsium terutama terjadi di bagian atas usus halus yaitu duodenum.
·         Fungsi Kalsium
*      Pembentukan Tulang
Sebagai bagian integral dari struktur tulang dan sebagai tempat menyimpan kalsium. Selama pertumbuhan proses klasifikasi berlangsung terus dengan cepat sehingga pada saat anak siap untuk berjalan tulang-tulang dapat menyangga berat tubuh. Pada ujung tulang panjang ada bagian yang berpori yang dinamakan trabekula, yang menyadiakan suplai kalsium siap paki guna mempertahankan konsentrasi kalsium normal dalam darah.
*      Pembentukan gigi
Mineral yang membentuk dendit dan email yang merupakan bagian tengah dan luar dari gigi adalah mineral yang sama dengan yang membentuk tulang.  Akan tetapi Kristal dalam gigi lebih padat dan kadar airnya lebih tendah.


*      Mengatur pembekuan darah
Bila terjadi luka ion kalsium di dalam darah merangsang pembebasan fosfolipida tromboplasti dari platelet darah yang terluka.
*      Katalisator reaksi-reaksi biologic
*      Kontraksi otot
Pada waktu otot berkontraksi kalsium berperan dalam interaksi protein di dalam otot yaitu aktin dan myosin.
·         Pengendalian kalsium dalam darah
Kalsium di dalam serum berada dalam tiga bentuk yaitu bentuk ion bebas (50%), bentuk anion kompleks terikat dengan fosfat, bikarbonat atau sitrat (5%) dan bentuk terikat dengan protein terutama dengan albumin atau globulin (45%).
·         Sumber Kalsium
Sumber kalsium utama adalah susu dan hasil susu, seperti keju. Serealia, kacang-kacangan dan hasil kacang-kacangan, tahu an temped an sayuran hijau merupakan sumber kalsium yang baim juga, tetapi bahan makanan ini mengandung banak zat yang menghambat penyerapan kalsium seperi serat, fitrat dan oksalat
·         Akibat kekurangan kalsium
Dapat menyababkan osteomalasia yang dinamakan juga riketsia pada orang dewasa dan biasanya terjadi karena kekurangan vitamin D dan ketidakseimbangan konsumsi kalsium terhadap fosfor.
·         Akibak kelebihan kalsium
Dapat menimbulkan batu ginjal atau gangguan ginjal. disamping itu dapat menyababkan konstipasi (sulit buang air besar).
e.       Fosfor
Fosfor merupakan mineral kedua terbanyak di dalam tubuh, yaitu 1% dari berat badan. Kurang lebih 85% fosfor di dalam tubuh terdapat sebagai garam kalsium fosfat yaitu sebagian dari Kristal hidroksiatit di dalam tulang dan gigi yang tidak dapat larut.
·         Absorpsi dan metabolisme fosfor
Fosfor dapat diabsorpsi secara efisien sebagai fosfor bebas di dalam usus setelah di hidrolisis dan dilepas dari makanan. Bayi dapat menyerap 85-90% fosfor berasal dari ASI. Sebanyak 65-70% fosfor berasal dari susu sapid dan 50-70% fosfor berasal dari susunan makanan normal dapat diabsorpsi oleh anak-anak dan orang dewasa. Bila konsumsifosfor rendah, taraf absorpsi dapat mencapai 90% dari konsumsi fosfor.
·         Fungsi
*      Klasifikasi tulang dan gigi
*      Mengatur pengalihan energy
*      Absorpsi dan transportasi zat gizi
*      Bagian dari ikatan tubuh esensial
*      Pengaturan keseimbangan asam-basa
·         Sumber fosfor
Fosfor terdapat pada semua makanan terutama makanan kaya protein seperti daging, ayam, ikan, telur, dan susu.
·         Akibat kekurangan Fosfor
Kekurangan fosfor bisa terjadi mengunakan obat antacid untuk menetralkan asam lambung. Gejalanya adalah rasa lelah, kurang nafsu makan dan kerusakan tulang.
·         Akibat kelebihan fosfor
Bila kadar fosfor darah terlalu tinggi ion fosfat akan mengikat kalsium sehingga dapat menimbulkan kejang.
f.       Magnesium
Magnesium adalah kation nomor dua paling banyak setelah natrium di dalam cairan intraselular. Magnesium di dalam alam merupakn bagian dari klorofil daun.   
·         Absorpsi Magnesium
Magnesium terutama diabsorsi di dalam usus halus, kemungkinan dengan bantuan alat angkut aktif dan secar difusi pasif. Pada konsumsi magnesium yang tinggi hanya sebanyak 30% magnesium diabsorpsi, sedangkan pada konsumsi rendah sebanyak 60%. Absorpsi magnesium dipengaruhi oleh factor-faktor yang sama yang mempengaruhi absorpsi kalsium kecuali vitamin D tidak berpengaruh. Bila kalsium dalam makanan turun, absorpsi magnesium meningkat.
·         Funsi magnesium
*      Sebagai katalisator dalam berbagai reaksi-reaksi biologic
*      Di dalam cairan ekstraselular berperan sdalam tranmisi saraf,kontraksi otot,pembekuan darah.
*      Mencegah kerusakan gigi
·         Sumber Magnesium
Adalah sayuran hijau, serealia tumbuk, biji-bijian, kacang-kacangan, daging, susu dan cokelat.

·         Akibat kekurangan magnesium
Menyebabkan kurang nafsu makan, gangguan dalam pertumbuhan, mudah tersinggung, gugup, kejang, gangguan system saraf pusat, halusinasi, koma, dan gagal jantung.
g.      Sulfur
Merupakan bagian dari zat-zat esensial seperti tiamin dan biotin serta asam amino metionin dan sistein. Sulfur diabsorpsi sebagai bagian dari asam amino atau sebagai sulfat anorganik. Sulfur sebsgian besar diekskresi melalui urin sebagai ion bebas SO 2-4. Sulfur juga merupakan salah satu elektrolit intraselular yang terdapat dalam plasma dan konsentrasi rendah.

2.             Mineral mikro
Mineral mikro terdapat jumlah yang sangat kecil didalam tubuh, namun mempunyai peran esensial untuk kehidupan, kesehatan, dan reproduksi. Kandungan mineral mikro bahan makanan sangat bergantung pada konsentrasi mineral mikro asal bahan makanan tersebut. Widya karya nasional pangan dan gizi tahun 2004 telah menetapkan angka kecukupan rata-rata sehari untuk mineral mikro besi (Fe), seng(Zn), iodium (I), selenium (Se), mangan (Mn) dan Flour ( F). Di amerika serikat, selain itu, ditetapkan juga angka antarbatas sementara yang dianggap aman dan cukup untuk dikonsumsi bagi mineral mikro tembaga (Cu), krom (Cr), dan molibden ( Mo). Sedangkan kebutuhan manusia akan mineral mikro arsen ( As), nikel (Ni), silikon (Si), dan boron (Bo) masih dalam penelitian.
a.   Besi

Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat didalam tubuh manusia dan hewan, yaitu sebanyak 3 sampai 5 gr didalam tubuh manusia dewasa. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial didalam tubuh: sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut elektron didalam sel dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim didalam karingan tubuh. Walaupun terdapat luas didalam makanan banyak penduduk dunia mengalami kekurangan besi, termasuk di Indonesia. Kekurangan besi sejak 30 tahun terakhir diakui berpengaruh terhadap produksifitas kerja, penampilan, kognitif, dan sistem kekebalan.
·         Absorbsi, transportasi, dan penyimpanan Besi
Tubuh sangat efisien dalam pengguanaan besi. Sebelum diabsorbsi, di dalam lambung besi di bebaskan dari organik, seperti protein. Sebagian besar besi dalam bentuk feri di reduksi menjadi bentuk fero. Hal ini terjadi dalam suasana asam di dalam lambung dengan adanya HCl dan vitamin C yang terdapat di dalam makanan. Absorbsi terutama terjadi di bagian atas usus halus (duodenum) dengan bantuan alat angkut protein khusus. Ada dua jenis alat angkut protein di dalam sel mukosa usus halus yang membantu penyerapan besi, yaitu transferin dan feritin. Transferin, protein yang di sintesis didalam hati terdapat dalam dua bentuk. Tranferin mukosa mengangkut besi dari saluran cerna kedalam sel mukosa dan memindahkannya ke transferin reseptor yang ada di dalam sel mukosa. Perifin yang bersirkulasi di dalam darah mencerminkan simpanan besi di dalam tubuh. Pengukuran perifin di dalam serum merupakan indikator prnting untuk menilai status besi. Menggunakan suplemen besi dosis tinggi dapat untuk jangka waktu panjang atau sering mendapat transfusi darah dapat menimbulkan penumpukkan besi secara berlebihan di dalam hati. Simpanan besi terutama dalam bentuk hemisideri yang tidak larut air dapat menimbulkan hemosiderosis yang tidak baik untuk tubuh. Ferifin dapat dengan cepat di bentuk dan di pecah untuk memenuhi kebutuhan tubuh segera akan besi. Hemosiderin di bentuk bila besi darah terlalu tinggi dan pemecahannya berlangsung lebih lambat.
·         Faktor yang Mempengaruhi Absorbsi Besi
Banyak faktor berpengaruh terhadap absorbsi besi. Bentuk besi di dalam darah berpengaruh terhadap penyerapannya. Besi-hem, yang merupakan bagian dari hemoglobin dan mioglobin yang terdapat di dalam daging hewan dapat diserap dua kali lipat daripada besi-nonhem. Kurang lebih 40% dari besi di dalam daging. Ayam dan ikan terdapat sebagai besi-hem dan selebihnya sebagai nonhem. Besi-nonhem juga terdapat di dalam telur, serealia, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah-buahan. Makan besi-hem dan nonhem secara bersama dapat meningkatkan penyerapan besi nonhem. Daging, ayam, dam ikan mengandung suatu faktor yang membantu penyerapan besi. Faktor ini terdiri atas asam amino yang mengikat besi dan membantu penyerapannya. Susu sapi, keju dan telur tidak mengadung faktor ini hingga tidak dapat membantu penyerapan besi.
Asam organik, seperti vitamin E sangat membantu penyerapan besi-non m dengan merubah bentuk feri menjadi bentuk fero. Seperti telah dijelaskan, bentuk fero lebih mudah diserap. Vitamin C disamping itu membentuk bungkus besi- askorbat yang tetap larut pada PH lebih tinggi dalam duodenum. Oleh kerena itu sangat dianjurkan memakan makanan sumber vitamin C tiap kali makan. Asam organik lain adalah asam sitrat.
Asam fitat dan faktor lain di dalam serat serealia dan asam oksalat di dalam sayuran menghambat penyerapan besi. Faktor-faktor ini mengikat besi, sehingga mempersulit penyerapannya. Protein kedelai menurunkan absorbsi besi yang mungkin di sebabkan oleh nilai fitat yang tinggi. Karena kedelai dan hasil olahnya mempunyai kandungan besi yang tinggi, pengaruh akhir terhadap absorbsi besi biasanya positif. Vitamin C dalam jumlah cukupdapat melawan sebagian pengaruh faktor-faktor yang menghambat penyerapan besi ini.
Tanin yang merupakan polifenol dan terdapat di dalam teh. Kopi dan beberapa jenis sayuran dan buah juga menghambat absorbsi besi dengan cara mengikatnya. Bila besi tubuh tidak terlalu tinggi, sebaiknya tidak minum teh atau kopi awktu makan. Kalsium dosis tinggi berupa suplemen menghambat absorbsi besi, namun mekanismenya belum diketahui dengan pasti. Bayi dapat lebih banyak menyerap besi yang berasal dari ASI daripada dari susu sapi.
Tingkat keasaman lambung mengikat daya larut besi. Kekurangan asam klorida di dalam lambung atau pengguna obat-obatan yang bersifat basa seperti antasid menghalangi absorbsi besi..
·      Fungsi Besi
Besi berperan dalam proses respirasi sel, yaitusebagai kofaktor bagi enzim-enzim yang terlibat di dalam reaksi oksidasi-reduksi.
Metabolisme energi. Di dalam tiap sel, besi bekerja sama dengan rantai protein pengangkut elektron, yang berperan dalam langkah-langkah akhir metabolisme energi. Beberapa bagian dari otak mempunyai kadar besi tinggi yang diperoleh dari transpor besi yang dipengaruhioleh reseptor transferin. Kadar besi dalam darah meningkat selama pertumbuhan hingga remaja. Kadar besi otak yang kurang pada masa pertumbuhan tidak dapat diganti setelah dewasa. Akibatnya kepekaan reseptor saraf dopamin berkurang yang dapat berakhir dengan hilangnya reseptor tersebut. Daya konsentrasi, daya ingat dan kemampuan belajar terganggu, ambang batas rasa sakit meningkat, fungsi kelenjar tiroid dan kemampuan mengatur suhu tubuh menurun.
Sistem kekebalan. Besi memegang peranan dalam sistem kekebalan tubuh. Respons kekebalan sel oleh limfosit-T terganggu karena berkurangnya pembentukkan sel-sel tersebut, yang kemungkinan disebabkan oleh berkurangnya sintesis DNA.
Pelarut obat-obatan. Obat-obatan tidak larut air oleh enzim mengandung besi dapat dilarutkan hingga dapat dikeluarkan dari tubuh.
·         Proses Daur Ulang Besi
Sel darah merah rata-rata berumur kurang lebih 4 bulan, sel-sel hati dan limpa akan mengambilnya dari darah, memecahnya dan menyiapkan produk-produk pemecahan tersebut untuk dikeluarkan dari tubuh atau di daur ulang. Zat besi sebagian besar di daur ulang. Hati mengikatkannya ke transferin darah, yang mengangkutnya kembali ke sum-sum tulang untuk digunakan kembali membuat sek darah merah baru. Hanya sedikit sekali besi dikeluarkan dari tubuh, terutama melalui urin, keringat, dan kulit yang mengelupas. Hanya bila terjadi perdarahan, tubuh bisa lebih banyak kehilangan besi. Kehilangan besi pada orang dewasa laki-laki kurang lebih sebanyak 1 mg sehari. Kehilangan besi melalui haid pada perempuan rata-rata sebanyak 0,5 mg sehari.
·         Angka Kecukupan Besi yang di anjurkan
Angka kecukupan besi sehari yang dianjurkan berdsarkan widya karya nasional pangan dan gizi ( 2004) dapat dilihat dengan tabel berukut.
·         Sumber Besi
Sumber baik besi adalah makanan hewani seperti daging, ayam, ikan. Sumber baik lainnya adalah telur, serealia tumbuk, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah. Besi di dalam serealia dan kacang-kacangan mempunyai ketersediaan biologik sedang, dan besi di dalam sebagian besar sayuran, terutama yang mengandung asam oksalat tinggi, seperti bayam mempunyai ketersediaan biologik rendah.
·         Akibat Kekurangan Besi
Defisiensi besi merupakan defisiensi gizi yang paling umum terdapat, baik di negara maju maupun negara sedang berkembang. Defisiensi besi terutama menyerang golongan rentan, seperti anak-anak, remaja, ibu hamil dan menyusui serta pekerja penghasilan rendah. Secara klasik defisiensi besi di kaitkan dengan anemia gizi besi. Namun sejak 25 tahun terakhir banyak bukti menunjukkan bahwa defisiensi besi berpengaruh luas terhadap kualitas sumber daya manusia, yaitu terhadap kemampuan belajar dan produktifitas kerja. Kehilangan besi dapat terjadi karena komsumsi makanan yang kurang seimbang atau gangguan absorbsi. Disamping itu kekurangan besi dapat terjadi karena perdarahan akibat cacingan atau luka, dan akibat penyakit-penyakit yang mengganggu absorbsi seperti penyakit gastro intestinal. Kekurangan besi terjadi dalam 3 tahap, yaitu
ü    Tahap pertama
Terjadi bila simpanan besi berkurang yang terlihat dari penurunan feritin dalam plasma hingga 12 ug/L. Hal ini di kompensasi dangan peningkatan absorbsi besi yang terlihat dari peningkatan kemampuan mengikat-besi total (total-tiron dinding kapasity/TIBC). Pada tahap ini belum terlihat perubahan fungsional pada tubuh.
ü    Tahap Kedua
Terlihat dengan habisnya simpanan besi menurunnya jenuh transferin hingga kurang dari 16% pada orang dewasa dan meningkatnya protoporfirin, yaitu bentuk pendahulu ( precursor)hem. Pada tahap ini nilai hemoglobin di dalam darah masih terdapat pada 95% nilai normal. Hal ini dapat mengganggu metabolisme energi, sehingga menyebabkan menurunnya kemampuan bekerja.
ü    Tahap Ketiga
Pada tahap ini terjadi anemia gizi besi, dimana kadar hemoglobin total turun di bawah nilai normal. Anemia gizi besi berat di tandai oleh sel darah merah yang kecil (mikrositosis) dan nilai hemoglobin rendah (hipokkromia). Oleh sebab itu anemia gizi besi dinamakan anemia hipokromik mikrositik. Kekurangan besi pada umumnya menyebabkan pucat, rasa lemah, letih, pusing, kurang nafsu makan, menurunnya kebugaran tubuh, menurunnya kemampuan kerja, menurunnya kekebalan tubuh dan gangguan penyembuhan luka.  Disamping itu kemampuan mengatur suhu tubuh menurun. Pada anak-anak kekurangan besi menimbulkan apatis, mudah tersinggung, menurunnya kemampuan untuk berkonsentrasi dan belajar, dan kehilangan indra rasa. Hipogeusia biasanya disertai penurunan nafsu makan dan hiposmia atau kehilangan indra bau. Hal ini biasanya terjadi pada stress akibat terbakar, fraktur tulang, dan infeksi. Seng tampaknya juga berperan dalam metabolism tulang, transport oksigen, dan pemunahan radikal bebas, pembentukan struktur dan fungsi membrane serta proses penggumpalan darah. Karena seng berperan dalam reaksi-reaksi yang luas, kekurangan seng akan berpengaruh banyak terhadap jaringan tubuh terutama pada saat pertumbuhan.
b.             Seng (Zn)
Tubuh mengandung 2-2,5 gram seng yang tersebar di hampir semua sel. Sebagian besar seng berada di dalam hati, pancreas, ginjal, otot, dan tulang. Jaringan yang banyak mengandung seng adalah bagian-bagian mata, kelenjar prostat, spermatozoa, kulit, rambut, dan kuku. Di dalam cairan tubuh, seng terutama merupakan ion intraseluler. Seng di dalam plasma hanya merupakan 0,1% dari seluruh seng di dalam tubuh yang mempunyai masa pergantian yang cepat.
·           Absorpsi dan metabolisme
Absorpsi membutuhkan alat angkut dan terjadi di bagian atas usus halus (duodenum). Seng diangkut oleh albumin dan transferin masuk ke aliran darah dan dibawa ke ahti. Kelebihan seng disimpan di dalam hati dalam bentuk metalotionein. Lainnya dibawa ke pancreas dan jaringan tubuh lain. Di dalam pancreas seng digunakan untuk membuat enzim pencernaan, yang pada waktu makan dikeluarkan ke dalam saluran cerna menerima seng dari dua sumber, yaitu dari makanan dan dari cairan pencernaan yang berasal dari pancreas. Sirkulasi seng di dalam tubuh dari pancreas ke saluran cerna dan kembali ke pancreas dinamakan sirkulasi enteropankreatik.
·         Faktor-faktor yang Mengatur Absorpsi Seng
Banyaknya seng yang diabsorpsi berkisar antara 15-40%. Seperti halnya besi, absorpsi seng dipengaruhi oleh status seng tubuh. Bila lebih banyak seng yang dibutuhkan, lebih banyak pula jumlah seng yang diabsorpsi. Albumin merupakan alat transport utama seng. Absorpsi seng menurun bila nilai albumin darah menurun, misalnya dalam keadaan gizi kurang atau kehamilan.
Sebagian seng menggunakan alat transport transfrerin, yang juga merupakan alat transport besi. Dalam keadaan normal kejenuhan transferin akan besi biasanya kurang dari 50%. Absorpsi seng berasal dari ASI labih baik yang berasal dari susu sapi.
·          Ekskresi Seng
Seng dikeluarkan tubuh terutama melalui feses. Di samping itu seng dikeluarkan melalui urin, dan jaringan tubuh yang dibuang, seperti jaringan kulit, sel dinding usus, cairan haid, dan mani.

·         Fungsi Seng
Seng memang peranan esensial dalam banyak fungsi tubuh. Sebagai bagian dari enzim atau sebagai kofaktor pada kegiatan lebih dari 200 enzim, seng berperan dalam berbagai aspek metabolisme, seperti reaksi-reaksi yang berkaitan dengan sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipida, dan asam nuklea. Seng juga dihubungkan dngan hormon insulin yang dibentuk di dalam pancreas, walaupun tidak berperan langsung dalam kegiatan insulin. Peran penting lain adalahsebagai bagian integral enzim DNA polymerase dan RNA polymerase yang dikeluarkan dalam sintesis DNA dan RNA. Sebagai bagian dari enzim kolagenase, seng berperan pula dalam sintesis dan degradasi kolagen. Dengan demikian, seng berperan dalam pembentukan kulit, metabolisme jaringan ikat dan penyembuhan luka.
·           Angka Kecukupan Seng yang Dianjurkan
Angka kecukupan Seng sahari yang dianjurkan berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2004) dapat dilihat pada Tabel 11.3.

Table 11.3 Angka kecukupan seng yang dianjurkan
Golongan
Umur
AKS*
(mg)
Golongan
Umur
AKS*
(mg)
0-6 bulan
90
Wanita :

7-11 bulan
120
10-12 th
120
1-3 tahun
120
13-15 th
150
4-6 tahun
120
16-18 th
150
7-9 tahun
120
19-29 th
150

30-49 th
150
Pria :
50-64 th
150
10-12 th
120
≥ 65 th
150
13-15 th
150

16-18 th
150
Hamil :
+ 50
19-29 th
150

30-49 th
150
Menyusui :

50-64 th
150
0-6 bl
+ 50
≥ 65 th
150
7-12 bl
+ 50
Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004
*Angka Kecukupan Seng
·           Sumber Seng
Sumber paling baik adalah sumber protein hewani, terutama daging, hati, kerang, dan telur. Serealia tumbuk dan kacang-kacangan juga merupakan sumber yang baik, namun mempunyai ketersediaan biologic yang rendah.
·           Akibat Kekurangan Seng
Defisiensi seng dapat terjadi pada golongan rentan, yaitu anak-anak, ibu hamil dan menyusui serta orang tua. Tanda-tanda kekurangan seng adalah gangguan pertumbuhan dan kematangan seksual. Fungsi pencernaan terganggu, karena gangguan fungsi pancreas, gangguan pembentukan kilomikron dan kerusakan permukaan saluran cerna. Di samping itu dapat terjadi diare dan gangguan fungsi kekebalan. Kekurangan seng kronis mengganggu pusat system saraf dan fungsi otak. Karena kekurangan seng mengganggu metabolism vitamin A, sering terlihat gejala yang terdapat pada kekurangan vitamin A. Kekurangan seng juga mengganggu fungsi kelenjar tiroid dan laju metabolism, gangguan nafsu makan, penurunan ketajaman indra rasa serta memperlambat penyembuhan luka.
·           Akibat Kelebihan Seng
Kelebihan seng hingga dua sampai tiga kali AKG menurunkan absorpsi tembaga. Pada hewan hal ini menyebabkan degenerasi otot jantung. Kelebihan sampai sepuluh kali AKG mempengaruhi metabolism kolesterol, mengubah nilai lipoprotein, dan tampaknya dapat mempercepat timbulnya aterosklerosis. Dosis sebanyak 2 gram atau lebih dapat menyebabkan muntah, diare, demam, kelelahan yang sangat, anemia, dan gangguan reproduksi. Suplemen seng bisa menyebabkan keracunan, begitupun makanan yang asam dan disimpan di dalam kaleng yang dilapisi seng.
c.   Iodium (I)
   Iodium ada di dalam tubuh dalam jumlah sangat sedikit, yaitu sebanyak kurang lebih 0,00004% dari berat badan atau 15-23 mg. Sekitar 75% dari iodium ini ada di dalam kelenjar tiroid, yang digunakan untuk mensintesis hormone tiroksin, tetraiodotironin (T4), dan triiodotironin (T3) (lihat Gambar 11.3). Hormon-hormon ini diperlukan untuk pertumbuhan normal, perkembangan fisik dan mental hewan dan manusia. Sisa iodium ada di dalam jaringan lain, terutama di dalam kelenjar-kelenjar ludah, payudara, dan lambung serta di dalam ginjal. Di dalam darah yodium terdapat dalam bentuk iodium bebas atau terikat dengan protein (Protein-Bound Iodine/PBI)
              I             H           I          H                                                       

HO                      O                        CH2CHNH2COOH      Tetraiodotironin (T4)
                                                                                        atau Tiroksin
              I             H           I          H
             
     I             H           I          H
                                                        
HO                      O                          CH2CHNH2COOH      Triiodotironin (T3)


     H                         I          H

Gambar 11.3 Struktur kimia tiroksin atau tetraiodotironin (T4) dan triiodotironin (T3)

Defisiensi iodium dinyatakan sebagai gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) yang menunjukkan luasnya pengaruh defisiensi iodium tersebut. Hingga sekarang masalah gangguan akibat kekurangan iodium terdapat luas di seluruh dunia termasuk Indonesia, dan penanggulangannya merupakan salah satu prioritas utama program WHO.
·           Ekologi dan Demografi Defisiensi Iodium
Iodium berada dalam suatu siklus di alam. Sebagian besar iodium ada di laut, sebagian kemudian merembes, dibawa hujan, angina, dan banjir ke tanah dan gunung di sekitarnya. Iodium terdapat di lapisan bawah tanah, sumur minyak dan gas alam. Air berasal dari sumur dalam tersebut dapat merupakan sumber iodium. Daerah pegunungan di seluruh dunia termasuk di Eropa, Amerika, dan Asia kurang mengandung iodium, terutama pegunungan yang ditutupi es dan mempunyai curah hujan tinggi yang mengalir ke sungai. Iodium di dalam tanah dan laut terdapat sebagai iodida. Ion iodida dioksidasi oleh sinar matahari menjadi unsur iodium yang mudah menguap. Iodium ini kemudian dikembalikan ke tanah oleh hujan. Pengembalian iodium ke tanah berjalan lambat dan sedikit dibandingkan dengan kehilangan semula, dan banjir berulang kali akan menyebabkan kekurangan iodium dalam tanah. Hasil pertanian dari daerah ini mengalami kekurangan iodium, sehingga manusia dan hewan yang bergantung pada hasil tanaman daerah tersebut akan mengalami kekurangan iodium.
·           Absorpsi dan Ekskresi
Iodium dengan mudah diabsorpsi dalam bentuk iodida. Konsumsi normal sehari adalah sebanyak 100-150 ug sehari. Ekskresi dilakukan melalui ginjal, jumlahnya berkaitan dengan konsumsi. Dalam bentuk ikatan organic di dalam makanan hewani hanya separuh dari iodium yang dikonsumsi dapat diabsorpsi. Di dalam darah, iodium terdapat dalam bentuk bebas dan terikat protein. Manusia dewasa sehat mengandung 15-20 mg iodium, 70-80% diantaranya berada dalam kelenjar tiroid. Di dalam kelenjar ini iodium digunakan untuk mensintesis hormon-hormon triiodotironin (T3) dan tiroksin atau tetraiodotironin (T4), bila diperlukan. Kelenjar tiroid harus menangkap 60 µg iodium sehari untuk memelihara persediaan tiroksin yang cukup. Penangkapan iodida oleh kelenjar tiroid dilakukan melalui transpor aktif yang dinamakan pompa iodium. Mekanisme ini diatur oleh hormone yang merangsang tiroid (Thyroid Stimulating Hormone/TSH) dan Hormon Tirotrofin/TRH yang dikeluarkan oleh hipotalamus yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary untuk mengatur sekresi tiroid. Hormone tiroksin kemudian dibawa darah ke sel-sel sasaran dan hati, di dalam sel-sel sasaran dan hati tiroksin dipecah dan bila diperlukan yodium kembali digunakan.
     
·           Fungsi Iodium
Iodium merupakan bagian integral dari kedua macam hormone tiroksin triiodotironin (T3) dan tetraiodotironin (T4). Fungsi utama hormone-hormon ini adalah mengatur pertumbuhan dan perkembangan. Hormone tiroid mengontrol kecepatan tiap sel menggunakan oksigen. Dengan demikian, hormone tiroid mengontrol kecepatan pelepasan energy dari zat gizi yang menghasilkan energy. Tiroksin dapat merangsang metabolism sampai 30 %. Di samping itu kedua hormone ini mengetur suhu tubuh, reproduksi, pembentukan sel darah merah serta fungsi otot dan saraf. Iodium berperan pula dalam perubahan karoten menjadi bentuk aktif vitamin A, sintesis protein dan absorpsi karbohidrat dariu saluran cerna. Iodium berperan pula dalam sintesis kolesterol darah.
·           Angka Kecukupan Iodium yang Dianjurkan
Angka kecukupan Iodium sehari yang dianjurkan berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2004) dapat dilihat pada Tabel 11.4
Tabel 11.4 Angka Kecukupan Iodium yang Dianjurkan
Golongan
Umur
AKI*
(mg)
Golongan
Umur
AKI*
(mg)
0-6 bulan
90
Wanita :

7-11 bulan
120
10-12 th
120
1-3 tahun
120
13-15 th
150
4-6 tahun
120
16-18 th
150
7-9 tahun
120
19-29 th
150


30-49 th
150
Pria :

50-64 th
150
10-12 th
120
≥ 65 th
150
13-15 th
150


16-18 th
150
Hamil :
+ 50
19-29 th
150


30-49 th
150
Menyusui :

50-64 th
150
0-6 bl
+ 50
≥ 65 th
150
7-12 bl
+ 50
Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004
*Angka Kecukupan Iodium
·           Sumber Iodium
Laut merupakan sumber utama iodium. Oleh karena itu, makanan laut berupa ikan, udang, dan kerang serta ganggang laut merupakan sumber iodium yang baik. Di daerah pantai, air dan tanah mengandung banyak iodium sehingga tanaman yang tumbuh di daerah pantai mengandung cukup banyak iodium. Semakin jauh tanah itu dari pantai semakin sedikit pula kandungan iodiumnya, sehingga tanaman yang tumbuh di daerah tersebut termasuk rumput yang dimakan hewan sedikit sekali atau tidak mengandung iodium. Salah satu cara penanggulangan kekurangan iodium ialah melalui fortifikasi garam dapur dengan iodium. Fortifikasi garam dengan iodium sudah diwajibkan di Indonesia.
·           Akibat Kekurangan Iodium
Pada kekurangan iodium, konsentrasi hormone tiroid menurun dan hormone perangsang tiroid/TSH meningkat agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak iodium. Bila kekurangan berlanjut, sel kelenjar tiroid membesar dalam usaha meningkatkan pengambilan iodium oleh kelenjar tersebut. Bila pembesaran ini menampak dinamakan gondok sederhana. Bila terdapat secara meluas di suatu daerah dinamakan gondok endemic. Gejala kekurangan iodium adalah malas dan lamban, kelenjar tiroid membesar, pada ibu hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam keadaan berat bayi lahir dalam keadaan cacat mental yang permanen serta hambatan pertumbuhan yang dikenal sebagai kretinisme. Seorang anak yang menderita kretinisme mempunyai bentuk tubuh abnormal dan IQ sekitar 20. Kekurangan iodium pada anak-anak menyebabkan kemampuan belajar yang rendah.
·           Akibat Kelebihan Iodium
Suplemen iodium adalah dosis terlalu tinggi dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid, seperti halnya kekurangan iodium. Dalam keadaan berat hal ini dapat menutup jalan pernapasan sehingga menimbulkan sesak napas.


d.             Tembaga (Cu)
Dalam melakukan fungsinya dalam tubuh, tembaga banyak berinteraksi dengan seng, molibden, belerang, dan vitamin C. Tembaga ada dalam tubuh sebanyak 50-120 mg. sekitar 40 % ada di dalam otot, 15% di dalam hati, 105 di dalam otak, 6% di dalam darah, dan selebihnya di dalam tulang, ginjal, dan jaringan tubuh lain. Di dalam plasma, 60 % dari tembaga terikat pada seruloplasmin, 30% pada transkuprein dan selebihnya pada albumin dan asam amino.
·           Absorpsi dan Metabolism Tembaga
Makanan sehari-hari mengandung kurang lebih 1 mg tembaga. Sebanyak 35-70% diabsorpsi. Absorpsi sedikit terjadi di dalam lambung dan sebagian besar di bagian atas usus halus secara aktif dan pasif. Absorpsi terjadi dengan alat angkut protein pengikat –tembaga metalotionein yang juga berfungsi dalam absorpsi seng dan cadmium. Jumlah tembaga yang diabsorpsi diduga dipengaruhi oleh banyaknya metalotionein di dalam sel mukosa usus halus.
Transport tembaga ke hati terutama menggunakan alat angkut albumin dan transkuprein. Penyimpanan sementara tembaga adalah dalam bentuk kompleks albumin-tembaga. Simpanan dalam hati berupa metalotionein atau seruloplasmin. Tembaga diangkut ke seluruh tubuh oleh seruloplasmin dan transkuprein. Tembaga juga dikeluarkan dari hati sebagai bagian dari empedu. Di dalam saluran cerna, tembaga dapat diabsorbsi kembali atau dikeluarkan dari tubuh bergantung kebutuhan tubuh. Pengeluaran melalui empedu meningkat bila terdapat kelebihan tembaga dalam tubuh.
Sedikit tembaga dikeluarkan melalui urin, keringat dan darah haid. Tembaga dapat diabsorpsi kembali oleh ginjal bila tubuh membutuhkan. Tembaga yang tidak diabsorpsi dikeluarkan melalui feses. Tembaga berinteraksi dengan banyak zat gizi seperti seng, besi, dan vitamin C. hal ini perlu diperhatikan dalam menggunakan suplementasi vitamin dan mineral di atas AKG. Seng dan besi dalam jumlah berlebihan menghambat absorpsi tembaga dan dapat menyebabkan defisiensi tembaga. Asam askorbat dalam jumlah berlebihan menurunkan  kemampuan oksidasi tembaga, dengan demikian kemampuan fungsional neruloplasmin. Serat dan fitrat ternyata tidak berpengaruh terhadap absorpsi tembaga.

·           Fungsi Tembaga
Fungsi utama tembaga di dalam tubuh adalah sebagai bagian dari enzim. Enzim-enzim mengandung tembaga mempunyai berbagai macam peranan berkaitan dengan reaksi yang menggunakan oksigen atau radikal oksigen. Sebagian besar tembaga di dalam sel darah merah terdapat sebagai metaloenzim superoksida dismutase yang terlibat di dalam pemunahan radikal bebas (sebagai antioksidan).
Tembaga memegang peranan dalam mencegah anemia dengan cara :
ü  Membantu absorpsi besi
ü  Merangsang sintesis hemoglobin
ü  Melepas simpanan besi dari ferritin dalam hati
Di samping itu tembaga berperan dalam pengikatan silang kolagen yang diperlukan untuk menjaga kekuatannya. Beberapa enzim mengandung tembaga dapat dilihat pada Tabel 11.5.

Table 11.5 Beberapa enzim yang mengandung tembaga dan fungsinya
Enzim mengandung tembaga
Fungsi
Sitokrom C oksidase
Fosforilasi oksidatif, di dalam mitokondria, memerlukan besi
Superoksida dismutase
Anti oksidan di dalam sitosol
2 O2 + 2 H2O                 2 H2O2 + O2 
Dopamine-beta-hidroksilase
Sintesis adrenalin dan noradrenalin
Tirosinase
Tirosin            dopa              dopakinon untuk produksi pigmen dalam epidermis
Urikase
Metabolisme asam urat di dalam hati dan ginjal
Usil oksidase
Kondensasi asam amino             ikatan silang elastin dan kolagen
Amine oksidase
Plasma dan jaringan ikat
Seruloplasmin
Bermacam aktivitas oksidase
Tiol oksidase
Pembentukan ikatan disulfida
`              Sumber : Garrow, J.S. dan W.P.T. James, Human Nutrition and Dietetics. 1993. Hlm 196.
·           Angka Kecukupan Tembaga yang Dianjurkan
Kekuranga tembaga karena makanan jarang terjadi, oleh karena itu AKG untuk tembaga di Indonesia belum ditentukan. Amerika Serikat menetapkan jumlah tembaga yang aman untuk dikonsumsi adalah sebanyak 1,5-3,0 mg sehari.

·           Sumber Tembaga
Tembaga terdapat luas di dalam makanan. Sumber utama tembaga adalah tiram, kerang, hati, ginjal, kacang-kacangan, ungags, biji-bijian, serealia, dan cokelat. Air juga mengandung tembaga dan jumlahnya bergantung pada jenis pipa yang digunakan dan sumber air.
·           Akibat Kekurangan Tembaga
Kekurangan tembaga jarang terjadi. Kekurangan ini pernah dilihat pada anak-anak kekurangan protein dan menderita anemia kurang besi serta pada anak-anak yang mengalami diare. Nutrisi parenteral yang kurang dalam tembaga juga dapat menyebabkan kekurangan tembaga. Kekurangan tembaga juga dapat terjadi pada bayi lahir premature atau bayi yang mendapat susu sapi yang komposisi gizinya tidak disesuaikan. Kekurangan tembaga dapat mengganggu pertumbuhan dan metabolism, di samping itu terjadi demineralisasi tulang. Gejala klinik kekurangan tembaga dapat dilihat pada Tabel 11.6.

Table 11.6 Gejala klinik kekurangan tembaga
Bayi gagal tumbuh kembang; edema dengan serum albumin rendah.
Anemia dengan  perubahan pada metabolism besi dan perubahan pada jaringan tulang.
Gangguan fungsi kekebalan.
Perubahan pada kerangka tubuh yang dapat menyebabkan patah tulang dan osteoporosis.
Hernia dan pelebaran pembuluh darah karena kegagalan pengikatan-silang kolagen dan elastin.
Depigmentase rambut dan kulit.

 Sumber : Garrow, J.S. dan W.P.T. James. Human Nutrition and Dietetics. 1993. Hlm 197.


·                Akibat Kelebihan Tembaga
Kelebihan tembaga secara kronis menyebabkan penumpukan tembaga di dalam hati yang dapat menyebabkan nekrosis hati atau serosis hati. Kelebihan tembaga dapat terjadi karena memakan suplemen tembaga, atau menggunakan alat memasak terbuat dari tembaga, terutama bila digunakan untuk memasak cairan yang bersifat asam. Konsumsi sebanyak 10-15 mg tembaga sehari dapat menimbulkan muntah-muntah dan diare. Berbagai tahap perdarahan intravascular dapat terjadi, begitupun nekrosis sel-sel hati dan gagal ginjal. Konsumsi dosis tinggi dapat menyebabkan kematian.

e.              Mangan (Mn)
·           Absorpsi dan Ekskresi Mangan
Mekanisme absorpsi mangan hingga sekarang belum diketahui dengan pasti. Seperti hanya dengan mineral mikro lainnya, factor makanan mempengaruhi absorpsi mangan. Besi dan kalsium menghambat absorpsi mangan. Mangan diangkut oleh protein transmanganin dalam plasma. Setelah diabsorpsi, mangan dalam waktu singkat terlihat dalam empedu dan dikeluarkan dengan feses. Taraf mangan dalam jaringan diatur oleh sekresi selektif melalui empedu. Pada penyakit hati, mangan menumpuk dalam hati.
·           Fungsi Mangan
Mangan tampaknya berperan sebagai kofaktor berbagai enzim yang membantu bermacam proses metabolism. Beberapa bentuk enzim tersebut adalah glutamin sintetase, superoksida fesmutase di dalam mitokondria dan piruvat karboksilase yang berperan dalam metabolism karbohidrat dan lipida. Enzim-enzim lain yang berkaitan dengan mangan juga berperan dalam sintesis ureum, pembentukan jaringan ikat dan tulang serta pencegahan peroksidasi lipida oleh radikal bebas. Defisiensi mangan pada hewan mengganggu metabolism lemak, pertumbuhan, dan merusak system kerangka tubuh, reproduksi, dan saraf.
Angka Kecukupan Mangan sehari yang dianjurkan berdasarka Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2004) dapat dilihat pada Tabel 11.7.
Table 11.7 Angka kecukupan mangan yang dianjurkan
Golongan
Umur
AKM*
(mg)
Golongan
Umur
AKM*
(mg)
0-6 bl
0,003
Wanita :

7-11 bl
0,6
10-12 th
1,6
1-3 th
1,2
13-15 th
1,6
4-6 th
1,5
16-18 th
1,6
7-9 th
1,7
19-29 th
1,8


30-49 th
1,8
Pria :

50-64 th
1,8
10-12 th
1,9
≥ 65 th
1,8
13-15 th
2,2


16-18 th
2,3
Hamil :
+ 0,2
19-29 th
2,3


30-49 th
2,3
Menyusui :

50-64 th
2,3
0-6 bl
+ 0,8
≥ 65 th
2,3
7-12 bl
+ 0,8

Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004
*Angka Kecukupan Mangan
·           Akibat Kekurangan Mangan
Kekurangan mangan belum pernah terlihat pada manusia. Kebutuhan mangan kecil, sedangkan mangan banyak terdapat dalam makanan nabati. Kekurangan mangan menyebabkan steril pada hewan jantan dan betina. Keturunan dari induk yang menderita kekurangan mangan, menunjukkan kelainan kerangka dan gangguan kerangka otot. Penggunaan suplementasi besi dan kalsium perlu diperhatikan karena kedua zat gizi ini menghambat absorpsi mangan. Kekurangan mangan sering terjadi bersamaan dengan kekurangan besi. Makanan tinggi protein dapat melindungi tubuh dari kekurangan mangan.
·           Akibat Kelebihan Mangan
Keracunan karena kelebihan mangan dapat terjadi bila lingkungan terkontaminasi oleh mangan. Pekerja tambang yang mengisap mangan yang ada pada debu tambang untuk jangka waktu lama, menunjukkan gejala-gejala kelainan otak disertai penampilan dan tingkah laku abnormal, yang menyerupai penyakit Parkinson.

f.              Krom (Cr)
Krom merupakan mineral esensial yang berperan dalam metabolism karbohidrat dan lipida. Seperti halnya besi, krom berada dalam berbagai bentuk dengan jumlah muatan berbeda. Krom paling mudah diabsorpsi dan paling efektif bila berada dalam bentuk Cr+++. Absorpsi krom naik, bila konsumsi rendah dan turun bila konsumsi tinggi.
·           Absorpsi dan Ekskresi Krom
Krom dalam bentuk Cr+++ diabsorpsi sebanyak 10% hingga 25%. Bentuk lain krom hanya diabsorpsi sebanyak 1%. Mekanisme absorpsi belum diketahui dengan pasti. Absorpsi dibantu oleh asam-asam amino yang mencegah krom mengendap dalam media alkali usus halus. Jumlah yang diabsorpsi tetap hingga konsumsi sebanyak 49 ug, setelah itu ekskresi melalui urin meningkat. Ekskresi melalui urin meningkat oleh konsumsi gula sederhana yang tinggi, aktivitas fisik berat atau trauma fisik.
Seperti halnya besi, krom diangkut oleh transferrin. Bila tingkat kejenuhan transferin tinggi, krom dapat diangkut oleh albumin.

·           Fungsi Krom
Krom dibutuhkan dalam metabolism karbohidrat dan lipida. Krom bekerjasama dengan insulin dalam memudahkan masuknya glukosa ke dala sel-sel, dengan demikian dalam pelepasan energy. Percobaan pada hewan menunjukkan bahwa kekurangan krom dapat menyebabkan gangguan toleransi terhadap glukosa, walaupun konsumsi insulin normal. Dalam keadaan berat defisiensi krom dapat menunjukkan sindroma mirip diabetes. Krom diduga merupakan bagian dari ikatan organic factor toleransi glukosa (glucose tolerance factor) bersama asam nikotinat dan glutation. Toleransi terhadap glukosa tampaknya dapat diperbaiki dengan suplementasi krom. Hal ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.
Konsentrasi krom di dalam jaringan tubuh menurun dengan umur, kecuali pada jaringan paru-paru yang justru meningkat.
·           Angka Kecukupan Krom yang Dianjurkan
Kekurangan krom karena makanan jarang terjadi, oleh karena itu AKG untuk krom belum ditentukan. Amerika Serikat menetapkan jumlah yang aman untuk dikonsumsi oleh orang dewasa adalah sebanyak 50-200 ug sehari.
·           Sumber
Sumber krom terbaik adalah makanan nabati. Kandungan krom dalam tanaman bergantung pada jenis tanaman, kandungan krom tanah dan musim. Sayuran mengandung 30 hingga 50 ppm, biji-bijian dan serealia utuh 30 hingga 70 ppm dan buah 20 ppm. Hasil laut dan daging juga merupakan sumber krom yang baik.
·           Akibat Kelebihan Krom
Kelebihan krom karena makanan belum perbah ditemukan. Pekerja yang terkena limbah industry dan cat yang mengandung krom tinggi dikaitka dengan kejadian penyakit hati dan kanker paru-paru. Kromat adalah bentuk krom dengan valensi 6. Tubuh tidak dapat mengoksidasi krom makanan dengan valensi 3 yang tidak toksik menjadi bentuk valensi 6 yang toksik. Jadi, krom di dalam makanan tidak ada kaitannya dengan kanker paru-paru.

g.             Selenium (Se)
Jumlah selenium dalam tubuh sebanyak 3-30 mg, bergantung pada kandungan selenium dalam tanah dan konsumsi makanan. Konsumsi orang dewasa berkisar antara 20-30 µg, bergantung pada kandungan tanah. Selenium baru dianggap zat gizi esensial sejak tahun 1957. Selenium terbukti dapat mencegah timbulnya penyakit hati pada tikus yang menderita kekurangan vitamin E. pada tahun 1973 ditemukan bahwa selenium adalah mineral mikro yang merupakan bagian esensial dari enzim glutation peroksidase.
·           Absorpsi dan Ekskresi Selenium
Selenium berada dalam makanan dalam bentuk selenometionin dan selenosistein. Absorpsi selenium terjadi pada bagian atas usus halus secara aktif. Selenium diangkut ileh albumin dan alfa-2 globulin. Absorpsi lebih efisien, bila tumbuh dalam keadaan kekurangan selenium. Konsumsi tinggi menyebabkan peningkatan ekskresi melalui urin.
·           Fungsi Selenium
Enzim glutation peroksidase berperan sebagai katalisator dalam pemecahan peroksida yang terbentuk di dalam tubuh menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik. Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang dapat mengoksidasi asam lemak-tidak jenuh yang ada pada membrane sel, sehingga merusak membrane sel tersebut. Selenium bekerjasama dengan vitamin E dalam perannya sebagai antioksidan. Selenium berperan serta dalam system enzim yang mencegah terjadinya radikal bebas dengan menurunkan konsentrasi peroksida dalam sel, sedangkan vitamin E menghalangi bekerjanya radikal bebas setelah terbentuk. Dengan demikian konsumsi selenium dalam jumlah cukup menghemat penggunaan vitamin E.
Selenium dan vitamin E melindungi membrane sel dari kerusakan oksidatif, membantu reaksi oksigen dan hydrogen pada akhir rantai metabolism, memindahkan ion melalui membrane sel dan membantu sintesis immunoglobulin dan ubikinon. Glutation peroksidase berperan di dalam sitosol dan mitokondria sel, sedangkan vitamin E di dalam membrane sel.
Karena selenium mengurangi produksi radikal bebas di dalam tubuh, mineral mikro ini mempunyai potensi untuk mencegah penyakit kanker dan penyakit degenerative lain. Bukti tentang hal ini belum cukup untuk menganjurkan penggunaan selenium sebagai suplemen. Enzim tergantung selenium lain adalah glisin reduktase yang ditemukan di dalam system bakteri. Selenium juga merupakan bagian dari kompleks asam aminom RNA.



·           Angka Kecukupan Selenium yang Dianjurkan
Angka kecukupan Selenium sehari yang dianjurkan berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2004) dapat dilihat pada Tabel 11.8.

Table 11.8 Angka Kecukupan Selenium yang Dianjurkan
Golongan
Umur
AKS*
(mcg)
Golongan
Umur
AKS*
(mcg)
0-6 bl
5
Wanita :

7-11 bl
10
10-12 th
20
1-3 th
17
13-15 th
30
4-6 th
20
16-18 th
30
7-9 th
20
19-29 th
30


30-49 th
30
Pria :

50-64 th
30
10-12 th
20
≥ 65 th
30
13-15 th
30


16-18 th
30
Hamil :
+ 5
19-29 th
30


30-49 th
30
Menyusui :

50-64 th
30
0-6 bl
+ 10
≥ 65 th
30
7-12 bl
+ 10

Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004
*Angka Kecukupan Selenium
·           Sumber Selenium
Sumber utama selenium adalah makanan laut, hati, dan ginjal. Daging dan unggas juga merupakan sumber selenium yang baik. Kendungan selenium dalam serealia, biji-bijian, dan kacang-kacangan bergantung pada kondisi tanah tempat tumbuhnya bahan makanan tersebut. Kandungan selenium pada sayur dan buah tergolong rendah. Daftar komposisi bahan makanan belum memuat kandungan selenium bahan makanan.
·           Akibat Kekurangan Selenium
Kekurangan selenium pada manusia karena makanan yang dikonsumsi belum banyak diketahui. Pada tahu 1979 para ahli dari Cina melaporkan hubungan antara status selenium tubuh dengan penyakit Keshan, dimana terjadi kardiomiopati atau degenerasi otot jantung yang terutama terlihat pada anak-anak dan perempuan dewasa (Keshan adalah sebuah propinsi di Cina). Penyakit Keshan-Beck pada anak remaja menyebabkan rasa kaku, pembengkakan dan rasa sakit pada sendi jari-jari yang diikuti oleh osteoarthritis secara umum, yang terutama dirasakan pada siku, lutut, dan pergelangan kaki. Pasien yang mendapat makanan parenteral total yang pada umumnya tidak mengandung selenium menunjukkan aktivitas glutation peroksidase rendah dan kadar selenium dalam plasma dan sel darah merah yang rendah. Beberapa pasien menjadi lemah, sakit pada otot-otot dan terjadi kardiomiopati. Pasien kanker mempunyai taraf selenium plasma yang rendah. Kekurangan selenium dan vitamin E juga dihubungkan dengan penyakit jantung.
·           Akibat Kelebihan Selenium
Dosis tinggi selenium (> 1 mg sehari) menyebabkan muntah-muntah, diare, rambut dan kuku rontok, serta luka pada kulit dan system saraf. Kecenderungan menggunakan suplemen selenium untuk mencegah kanker harus dilakukan secara hati-hati, jangan sampai terjadi dosis berlebihan.
h.             Molibden (Mo)
Molibden bekerja sebagai kofaktor berbagai enzim, antara lain xantin oksidase, sulfat oksidase, dan aldehid oksidase yang mengkatalisis reaksi-reaksi oksidasi-reduksi seperti oksidasi aldehid purin dan pirimidin serta xantin dan sulfit. Oksidasi sulfit berperan dalam pemecahan sistein dan metionin, serta mengkatalisis pembentukan sulfat dari sulfit. Absorpsi molibden sangat efektif (kurang lebih 80%). Molibden dalam jumlah berlebihan menghambat absorpsi tembaga. Akibat kekurangan molibden karena makanan belum pernah terlihat. Molibden terdapat dalam jumlah sedikit sekali dalam tubuh, segera diabsorpsi dari saluran cerna, dan diekskresi melalui urin. Kekurangan molibden pernah terlihat pada pasien yang mendapat makanan parental total. Gejalanya adalah mudah tersinggung, pikiran kacau, peningkatan laju pernapasan dan denyut jantung yang dapat berakhir dengan pingsan.
·           Sumber Molibden
Nilai molibden dalam makanan bergantung pada lingkungan dimana makanan tersebut ditanam. Sumber utama adalah susu, hati, serealia utuh dan kacang-kacangan. Konsumsi yang dianggap aman adalah sebanyak 75-250 µg sehari untuk orang dewasa dan 15-20 µg sehari untuk anak-anak. Konsumsi berlebihan dihubungkan dengan sindroma mirip penyakit gout, disertai peningkatan nilai molibden, asam urat dan oksidase xantin di dalam darah. Konsumsi sampai 0,54 mg sehari dapat menyebabkan kehilangan tembaga melalui urin.

i.               Fluor (F)
Fluor terdapat di dalam tanah, air, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Hanya sedikit sekali ada di dalam tubuh manusia, namun peranannya penting.
·           Fungsi Fluor
Fluor dianggap zat gizi esensial karena peranannya dalam mineralisasi tulang dan pengerasan email gigi. Pada saat gigi dan tulang dibentuk, pertama terbentuk Kristal hidroksiapatit yang terdiri atas kalsium dan fosfor. Kemudian fluor akan menggantikan gugus hidroksil (OH) pada kristal tersebut dan membentuk fluoroapatit. Pembentukan fluoroapatit ini menjadikan gigi dan tulang tahan terhadap kerusakan.
·           Fluorodisasi dan Karies Gigi
Kekurangan fluor akan menyebabkan kerusakan gigi/karies gigi. Melalui fluorodisasi air minum, masyarakat terutama anak-anak akan terlindung dari karies gigi ini. Penambahan fluoride pada pasta gigi juga melindungi masyarakat terhadap karies gigi.
·           Fluorodisasi dan Osteoporosis
Fluor diduga dapat mencegah osteoporosis (tulang keropos) pada orang dewasa dan orangtua. Angka kecukupan fluor sehari yang dianjurkan berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2004) dapat dilihat pada Tabel 11.9.

Tabel 11.9 Angka kecukupan fluor yang dianjurkan
Golongan
Umur
AKF*
(mg)
Golongan
Umur
AKF*
(mg)
0-6 bl
0,01
Wanita :

7-11 bl
0,4
10-12 th
1,9
1-3 th
0,6
13-15 th
2,4
4-6 th
0,9
16-18 th
2,5
7-9 th
1,2
19-29 th
2,5


30-49 th
2,7
Pria :

50-64 th
2,7
10-12 th
1,7
≥ 65 th
2,7
13-15 th
2,4


16-18 th
2,7
Hamil :
+ 0
19-29 th
3,0


30-49 th
3,1
Menyusui :

50-64 th
3,1
0-6 bl
+ 0
≥ 65 th
3,1
7-12 bl
+ 0

Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004
*Angka Kecukupan Fluor
·           Akibat Kekurangan Fluor
Kekurangan fluor terjadi di daerah dimana air minum kurang mengandung fluor. Akibatnya adalah kerusakan gigi dan keropos tulang pada orangtua.
·           Akibat Kelebihan Fluor
Kelebihan fluor dapat menyebabkan keracunan. Hal ini baru terjadi pada dosis sangat tinggi atau setelah bertahun-tahun menggunakan suplemen fluor sebanyak 20-80 mg sehari. Gejalanya adalah fluorosis (perubahan warna gigi menjadi kekuningan), mulas, diare, sakit di daerah dada, gatal, dan muntah.
·           Konsumsi Fluor
Makanan sehari-hari mengandung fluor, namun sumber utama adalah air minum. Konsumsi fluor yang dianggap cukup dan aman adalah 1,5-4,0 mg/sehari. Hendaknya air minum mengalami fluorodisasi sehingga mengandung 1 bagian fluor/1 juta bagian air (1 ppm), yang berarti 1 mg/L air. Air yang diperoleh melalui Perusahaan Air Minum (PAM) sudah difluorodisasi.
j.               Kobal (Co)
Sebagian besar kobal dalam tubuh terikat dalam vitamin B12. Plasma darah mengandung kurang lebih 1 µg kobal/100 ml.
·           Absorpsi dan Ekskresi Kobal
                  Absorpsi kobal terjadi pada bagian atas usus halus mengikuti mekanisme absorpsi besi. Absorpsi meningkat bila konsumsi besi rendah. Sebanyak 85% ekskresi kobal dilakukan melalui urin, selebihnya melalui feses dan keringat.
·           Fungsi Kobal
Akan komponen vitamin B12 (kobalamin). Vitamin ini diperlukan untuk mematangkan sel darah merah dan menormalkan fungsi semua sel. Kobal mungkin juga berperan dalam fungsi berbagai enzim.
·           Sumber Kobal
Mikroorganisme dapat membentuk vitamin B12. Hewan memamah biak memperoleh kobalamin melalui hubungan simbiosis dengan mikroorganisme dalam saluran cerna. Manusia tidak dapat melakukan simbiosis ini, sehingga harus memperoleh kobalamin dari makanan hewani seperti hati, ginjal, dan daging. Makanan nabati mengandung sedikit kobal, bergantung pada kandungan tanah tempat tumbuhnya. Pengikut vegetarian (hanya makan makanan nabati) perlu berhati-hati terhadap kemungkinan kekurangan vitamin B12.

·         Mikro Mineral Lain : Kebutuhan Belum Ditetapkan
Kegunaan mineral mikro lain untuk manusia belum diketahui dengan pasti.   Pengetahuan yang ada banyak diperoleh dari hasil penelitian dengan hewan.
ü Silicon (Si)
Silicon baru dianggap sebagai zat gizi esensial sejak 20 tahun lalu. Konsentrasi tertinggi terdapat dalam epidermis dan jaringan ikat. Silicon berperan dalam memulai klasifikasi tulang dan mempengaruhi sintesis kolagen. Silicon diabsorpsi dalam bentuk asam silikat dan diekskresi melalui urin. Konsentrasi rata-rata dalam plasma adalah 0,5 µg/liter. Silicon terutama terdapat dalam makanan nabati terutama biji-bijian dan serealia utuh. Bir mengandung silicon dalam konsentrasi tinggi.
ü Vanadium (Va)
Vanadium berasal dari nama dewi Skandinavia yang menggambarkan kecantikan, kemudaan, dan kekemilauan. Vanadium diduga berperan dalam fungsi enzim-enzim yang berkaitan dengan fosforilasi. Vanadium diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tulang serta untuk reproduksi normal. Sumber baik vanadium adalah serealia dan hasilnya. Daging, ikan, dan unggas merupaka sumber yang sedang.
ü Timah (Pb)
Timah dalam jaringan tubuh mula-mula hanya dianggap sebagai kontaminasi lingkungan. Belakangan terbukti bahwa timah pada tikus meningkatkan pertumbuhan. Timah cenderung membentuk ikatan kovalen seperti halnya karbon. Timah mempunyai pengaruh induksi terhadap enzim oksigenase hem, yang menyebabkan pemecahan hem dalam ginjal dan mengganggu fungsi sel yang bergantung pada hem.
ü Nikel (Ni)
Nikel pada tahun 1974 ditemukan sebagai zat gizi esensial untuk ayam, tikus, dan kambing. Nikel terdapat di dalam DNA dan RNA. Fungsinya mungkin menstabilisasi struktur asam nukleat dan protei atau sebagai kofaktor atau komponen structural berbagai enzim. Kekurangan nikel dapat menyebabkan kerusakan hati dan alat tubuh lain. Sumber baik nikel adalah kacang-kacangan, serealia, dan produk serealia. Makanan hewani hanya sedikit mengandung nikel.
ü Arsen (As) dan Boron ( Bo)
Arsen diduga merupakan zat gizi esensial lain. Kebenarannya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Penelitian pada tikus dan anjing percobaan menunjukkan bahwa boro berpengaruh terhadap metabolism mineral makro. Suplementasi boron pada perempuan sesudah menopause, dapat mencegah kehilangan kalsium dan demineralisasi tulang.
Mineral mikro lain yang masih memerlukan pembuktian tentang kegunaannya adalah Perak (Ag), Merkuri (Hg), Stanum (Sn), Barium (Ba), Kadmium (Cd), dan Arsen (As).




BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Dalam tubuh manusia dibutuhkan kebutuhan cairan yang cukup. Tubuh dapat bertahan berminggu-minggu tanpa makanan tapi hanya beberapa hari tanpa air. Air merupakan bagian utama tubuh, tubuh yang mengandung relative banyak otot mengandung lebih banyak air, sehingga kandungan air atlet lebih banyak daripada non atlet, kandungan air pada laki-laki lebih banyak daripada perempuan, dan kandungan air pada anak muda lebiih banyak daripada orang tua.  Yang termasuk mineral makro: natrium, klorida, kalium, kalsiu, fosfor, magnesium, sulfur. Dan yang termasuk mineral makro antara lain adalah besi, seng, iodium, selenium, klor, tembaga, krom, molibden.

B.     SARAN

Untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia dan mencapai tingkat kehidupan yang lebih bermutu serta usia yang lebih panjang, factor pemenuhan gizi salah satunya cairan tubuh dan mineral memainkan peran yang sangat penting.













DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita.2009.Prinsip Dasar Ilmu Gizi.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama

Proverawati Atikah, dkk.2011.Ilmu Gizi untuk Keperawatan dan Gizi Kesehatan.Jogjakarta: Nuha Medika.
Sediaoetama, AD. 1985.Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi.Jakarta:Dian Rakyat


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar